Jumat, 06 Januari 2017
Sinoman*
Ini fotoku dan kawan-kawan waktu aku remaja, saat menjadi Sinoman… Kebetulan, di Facebook Jeng Weka Binti Gunawan dan Mbak Marulina Pane ngobrolin soal jamuan di Solo…
Ngomongin kuliner Solo, yang istilahnya adalah hanya ada enak dan enak banget, ada suatu kebiasaan unik pada zaman aku remaja… Pada perhelatan adat dan resepsi perkawinan di Solo, penyajian hidangannya sangat unik… Tidak buffet atau prasmanan. Dideskripsikan oleh Mbak Ruli : Tetamu dipersilakan duduk di kursi- kursi yang di depannya ada meja kecil tinggi. Minuman dan hidangan satu per satu diantar. Mulai dengan teh di gelas, lalu sup, lalu dahar (makanan utama), diikuti dengan es/puding. Melayaninya juga cepat karena pelayannya banyak. Cara menjamu seperti itu disebut USDEK (Unjukan/minum), Sup, Dahar/makan; Es; dan Kundur (pulang).
USDEK memang paling lazim... Padahal itu jargonnya Bung Karno, tapi lebih ngetop sebagai sebutan untuk cara menghidangkan makanan pada perhelatan di Solo…
Dan kami, yang remaja-remaja biasanya dipilih untuk mendapat baju kebaya seragam... dan mendapat tugas LADEN… menyampaikan hidangan kepada para tamu... sekalian sebagai sarana oleh orang-orang tua kita... mengumumkan bahwa mereka mempunyai gadis-gadis yang siap diambil menantu... Lucu ya...
*Sinoman artinya nom-noman, “yang muda, yang bergaya” yang dipilih dan diminta oleh yang punya hajat untuk menyajikan hidangan kepada tamu undangan.
~ Nuniek Harun Musawa ~
Rabu, 16 November 2016
Bulan Ayah, Lukisan Bapak...
Hampir tiap sore Bapak duduk santai di sudut kanan teras itu, usai seharian mengajar. Aku dan adik-adikku, sesudah mandi dan rapi, selalu menghabiskan sore bersama Bapak. Ngobrol segala hal. Beliau adalah tempat kami bertanya apapun. Biasanya, di teras itu Bapak ngopi sambil melukis...
Bapak suka melukis alam. Suatu kali beliau berujar, "Coba kamu tetap duduk di situ ya." Mengarahkanku pada posisi tertentu. "Bapak ingin melukis kamu...."
Wah, rasanya senaaang bukan main. Bapak melukis sambil terus mendengarkan dan menanggapi celotehan kami. Hasil lukisannya bisa kunikmati hingga kini... di lukisan wajahku itu, yang kulihat adalah cinta seorang Bapak...
Selamat BULAN AYAH untuk Bapak dan kawan-kawan yang juga seorang Bapak...
Inilah caraku... cara seorang anak merayakannya...
~ Nuniek Harun Musawa ~
Senin, 10 Oktober 2016
PAMER CUCU
Cucumu sekarang berjumlah 24 orang. Terdiri dari 10 laki-laki dan 14 perempuan. Alhamdulillah ada doktor ada dokter, empat master lulusan Amerika, Taiwan ada juga yang ITB... sedangkan yang lain lulusan Melbourne Uni, RMIT, UI, UGM, ITB, ITS, UNDIP, UNIKA ATMAJAYA, UNJ, UPH, SARJANA WIYATA JOGYA, dan yang bungsu masih berada di SMA DE BRITO Yogyakarta.
Mereka ini adalah penerusmu, tunas-tunas bangsa penerus cita citamu... Mereka lahir dari anak-anakmu yang waktu kau tinggalkan menghadap-Nya, tiada satupun yang lulus sarjana dan berkeluarga... bahkan anak bungsumu yang terkecil masih berusia 7 bulan saat itu... Anak bungsu itu kini adalah seorang doktor/Phd lulusan Korea Selatan, masternya ia selesaikan di UGM dan sekarang menjadi guru seperti engkau dulu, mengajar di UGM pula... dan yang lain, dengan kegigihan ibu, hampir semua lulus sarjana, kecuali si sulung... aku...
Bapak, hari ini... di hari kelahiranmu, kami semua berdoa semoga Bapak bahagia dan lega... Cucu-cucumu mendapatkan ridho-Nya, mereka menjadi orang-orang yang kebeneran, sesuai doamu dulu... tiada satupun yang nakal... semoga ini membuatmu tersenyum... Oh ya... cicitmu 12 orang sekarang ini... dan cicit sulungmu, yang kebetulan cucu sulungku juga... kini sedang menempuh studinya di Jerman....
ALHAMDULILLAH....
AL FATEHAH untuk Bapakku R. Goenadi Prodjomulyono dan BERKAH DALEM GUSTI untuk ibuku Anastasia Soelastri Nurhayati.
~ Nuniek Harun Musawa ~
Senin, 03 Oktober 2016
Selamat jalan Ibu Herawati Diah ....
Jumat, 30 September 2016
Innalillahi wa innaillaihi rojiun...
Pertemuan pertamaku dengan beliau terjadi pada sekitar tahun 1975... Aku menghadap beliau di Hotel Arya Duta kepunyaannya untuk urusan sponsorship Pemilihan Puteri Remaja Indonesia.
Pertemuan berikutnya... kebetulan kami sering bertemu di acara pengajian Choirunnisa di kediaman ibu Harmoko sebulan sekali...
Ibu Herawati Diah adalah tokoh pelindung organisasi IKWI, Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia... Aku dan anggota pengurus beberapa kali diundang di Villanya...
Suatu kebetulan ketika stop over di London dari Chicago... aku dan dua anakku menginap di WISMA MERDEKA kepunyaan Deplu... Berjumpalah aku dengan ibu Diah... Selama di London inilah aku bisa jalan bersama... layaknya seorang ibu dengan putrinya... Ibu Diah sedang incognito, tanpa protokoler seperti biasanya... Beliau menanggalkan semua predikatnya... sebagai seorang pengusaha sukses tetapi waktu itu ibu menjadi seorang ibu yang bersahaja... Beliau bercerita dengan rileks, bercanda dengan anak-anakku dengan Bahasa Inggris... dan aku belajar banyak juga menikmatinya....
Foto ini diambil di meja makan waktu breakfast... sangat santai...
Terakhir aku jumpa beliau di MMC... Beliau menanyakan anakku Adiba... "Bagaimana anakmu yang pintar Bahasa Inggris itu, sudah kawinkah"... Beliau ingat dan tidak pikun... Subhanallah...
Tulisan ini kutulis di atas kereta Argobromo Anggrek menuju Pekalongan... Aku hanya bisa mengirim doa... Al Fatihah... Semoga khusnul khotimah... Aamiin.
Selamat jalan ibu Herawati Diah....
~ Nuniek Harun Musawa ~
Kamis, 29 September 2016
Kenangan Penataran P4
Pada era Orde Baru... untuk menjadi pemimpin redaksi media cetak, siapapun harus lulus penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) .... Saya menjalaninya untuk menjadi pemred Aneka Yess!, majalah yang paling besar oplaag dan readershipnya selama beberapa tahun berturut-turut menurut AC Nielsen...
Penataran satu bulan penuh, super disiplin. Tidak boleh sekalipun terlambat apalagi absen... Syarat tak cukup itu.... Selain harus anggota PWI, juga harus mendapat rekomendasi dari PWI. Ditambah rekomendasi dari pemred media cetak lain yang sudah aktif beberapa lama. Semua harus dipenuhi dengan ketat....
Luar biasa birokrasinya.. Yang sekarang sudah jauh lebih longgar... Betapa semua itu membutuhkan kesabaran tinggi dan ketekunan hati... Namun rasanya pengalaman penataran tetap menyenangkan, terlihat dari fotoku ini...hehehe....
~ Nuniek Harun Musawa ~
Selasa, 27 September 2016
Mengenang BAPAKKU
Bapakku, Raden Goenadi Prodjomuljono, adalah panengah dari lima bersaudara.... Pada zaman perang, beliau pernah menjadi tentara dengan pangkat kapten... Setelah perang usai, beliau kembali ke minat awalnya menjadi pendidik di sekolah teknik... Sampai pensiun beliau adalah kepala sekolah teknik negeri di Surakarta... Saya sangat bangga terhadap Bapak... Beliau mendidik putra-putrinya bahwa belajar adalah sesuatu yang fun... Tidak perlu dengan kening yang berkerut... Hari-hari masa kanak-kanak, kami bersepuluh sampai remaja, selalu bernyanyi bersama... Lagu-lagu tempo dulu dari karya Ismail Marzuki sampai Elvis Presley... Ya kami harus kerja keras, harus juara kelas, tapi kami menikmati prosesnya yang menyenangkan... bukan semata hasil akhirnya.... sehingga saya pernah membuatnya bangga, waktu lulus SMA, saya adalah Pelajar Teladan Cendekia dari SMAN 3 Surakarta… Bapak tidak pernah sekalipun tidak mengajak kami bepergian saat hari libur. Bersama-sama kami ke tempat-tempat wisata... Baik ke gunung maupun ke laut, kami dibuatnya mencintai tanah air... ke barat sampai ke Jakarta, ke timur sampai ke asal kakek di Situbondo dengan pasir putihnya yang menawan... Tiap malam Minggu kami pergi beramai-ramai, keliling kota, berakhir dengan kuliner... kami jelajahi tempat-tempat makan di Solo... duduk ngeriung kami bersama Bapak menikmati nasi liwet asli Baki, gudeg Solo, ketan dan jenangnya Mbok Kedul, nasi tumpangnya Mbah Wido… Kalau pengen sate kita pergi ke Tambak Segaran… Sotonya Soto Triwindu, timlonya Timlo Pak Harjo, kamarbola di Purwosari dan masih banyak lagi yang lain... Sayang...bapak menemani hanya sampai usia 51 tahun, dan bulan depan adalah bulan kelahiran beliau... andai masih hidup... beliau tahun ini berusia 98 tahun… Foto ini adalah foto Bapak dengan pakaian kerja tiap masuk keraton… Pada waktu itu sebagai seorang abdi dalem Keraton Surakarta, Bapak bekerja di bagian Nitikerto... Pekerjaan itu di bawah Pangeran Mangkubumi yang mengurusi bangunan keraton... Foto ini sengaja saya sandingkan… pada umur kami yang kira-kira sama… sama-sama 17 tahun...
~ Nuniek Harun Musawa ~
Jumat, 10 Juni 2016
"Memberi Masukan, Mendapat Tanggapan Positif dan Simpatik"
Awalnya, hanya ingin memberi masukan peristiwa 28 Mei lalu.... tentang frontliner jutek SEIBU Grand Indonesia.
Menurut saya, usaha kalau mau maju, ya harus mau mendengar kritik dan memperbaikinya.... Itu yang dilakukan oleh SEIBU Grand Indonesia. Saya dihubungi oleh Joan Rais selaku Store Manager, untuk menanggapi keluhan saya. Dengan sangat profesional, dia doing PR yang sangat bagus dan qualified. Saat menemui saya dan Mas Harun di Premium Lounge, terlihat sekali dia bertanggung jawab untuk memperbaiki kinerjanya.
Katanya... dari seribu staf untuk empat lantai SEIBU department store, pastilah ada satu, dua atau tiga yang tidak sesuai harapan. Bisa dimengerti sih... Tapi sebagai konsumen, so pasti... mengharapkan layanan yang selalu prima. Iya khan.....
Saya mengapresiasi SEIBU yang begitu cepat menanggapi situasi dengan sangat baik, untuk memperbaiki pelayanannya kepada pelanggan. Saya sangat menghargainya... Kekecewaan yang saya alami beberapa waktu lalu terasa terobati... Karena pada dasarnya saya adalah pelanggan loyal SEIBU, dan kelihatannya SEIBU merasa harus memberi pelayanan yang prima juga. SEIBU Grand Indonesia, sebagai tempat belanja... nyaman, berkelas, dengan program-program promo yang bagus, selain lokasinya memang sangat strategis...
Alhamdulillah... ternyata SEIBU masih mau mendengar keluhan customer dengan sangat baik....
~Nuniek Harun Musawa~
Jumat, 27 Mei 2016
Frontliner SEIBU Grand Indonesia Jutek
Jumat siang (27/5/2016) saya berbelanja di SEIBU, Grand Indonesia, membeli produk Yves Saint Laurent. Saya pelanggan setia, selalu belanja di situ. Eh kebetulan ada promo mendapat voucher senilai Rp 900 ribu setelah belanja Rp 2 juta, ya alhamdulillah... Katanya, voucher itu hanya diberikan ke 190 orang. Program bagus dong...
Selesai belanja dan membayar dengan Citibank, saya harus ke sebuah front desk untuk mendapat voucher itu. Satu frontliner perempuan di balik meja dengan latar bertuliskan "SERVICE" tengah melayani satu pelanggan. Saya mengantri. Setelah beberapa saat, saya merasa durasi pelayanannya tidak wajar. Terlalu lama. Sementara saya sudah harus ke lokasi lain.
Saya bertanya pada frontliner itu, "apa masih lama?" Tidak dijawab, sampai tiga kali saya bertanya. Alih-alih dengan ramah menunjukkan front desk lain mana yang dapat segera melayani, ia justru memasang wajah kesal dan menjawab dengan nada ketus. "Ya lama!"
Saya melihat sekeliling departement store itu... sepiiii... pengunjung hanya segelintir.
Lalu untuk apa membuat promo memberi voucher, jika kinerja frontlinernya tidak dibenahi....?
Sedang sepi saja tidak dapat memberi pelayanan yang ramah, bagaimana kalau ramai...?
Atau karena saat itu sekitar jam 12 siang... mungkin frontliner itu sedang lapar...? Entah lah...
Meski kemudian saya dilayani dan ia minta maaf, tetap saja saya merasa kok begitu amat ya... Bekerja kok kayak nggak hepi.
Saya menulis ini untuk perbaikan pelayanan. Kepada Sales and Service Manager SEIBU Grand Indonesia, latihlah frontliners Anda dengan lebih baik.
~Nuniek Harun Musawa~
Selesai belanja dan membayar dengan Citibank, saya harus ke sebuah front desk untuk mendapat voucher itu. Satu frontliner perempuan di balik meja dengan latar bertuliskan "SERVICE" tengah melayani satu pelanggan. Saya mengantri. Setelah beberapa saat, saya merasa durasi pelayanannya tidak wajar. Terlalu lama. Sementara saya sudah harus ke lokasi lain.
Saya bertanya pada frontliner itu, "apa masih lama?" Tidak dijawab, sampai tiga kali saya bertanya. Alih-alih dengan ramah menunjukkan front desk lain mana yang dapat segera melayani, ia justru memasang wajah kesal dan menjawab dengan nada ketus. "Ya lama!"
Saya melihat sekeliling departement store itu... sepiiii... pengunjung hanya segelintir.
Lalu untuk apa membuat promo memberi voucher, jika kinerja frontlinernya tidak dibenahi....?
Sedang sepi saja tidak dapat memberi pelayanan yang ramah, bagaimana kalau ramai...?
Atau karena saat itu sekitar jam 12 siang... mungkin frontliner itu sedang lapar...? Entah lah...
Meski kemudian saya dilayani dan ia minta maaf, tetap saja saya merasa kok begitu amat ya... Bekerja kok kayak nggak hepi.
Saya menulis ini untuk perbaikan pelayanan. Kepada Sales and Service Manager SEIBU Grand Indonesia, latihlah frontliners Anda dengan lebih baik.
~Nuniek Harun Musawa~
Selasa, 24 Mei 2016
Berkebun di Rumah
Panen hasil kebun rumah belakang pensiunan wartawan... hehehe... Lumayan ya... ada kangkung, caisim, timun, cabe... tomatnya belum matang..
~Nuniek Harun Musawa~
~Nuniek Harun Musawa~
Kenapa perlu Aneka? Kan sudah ada MODE...
Menjawab Pertanyaan Model-model, Bu Nuniek Curhat....
Ternyata... MODE, bayi yang aku lahirkan di akhir tahun 1986, setelah aku berhenti bekerja di tempatku yang lama pada awal 1986, tidak bisa kutimang lebih lama.... Untung pada awal-awal 90-an aku punya kesempatan melahirkan bayi baru, sebagai adik MODE yang bernama Aneka.
Untuk menerbitkan kedua majalah tersebut dengan rentang waktu kurang lebih empat tahun, aku harus mencari modal... mencari tim... dan dengan gerilya di belantara perizinan penerbitan majalah di zaman Orde Baru... aku harus mencari izin terbit.
Layaknya suatu usaha, adalah hasil sinergi dari berbagai disiplin. Untuk membuat produk yang bagus perlu tim produksi yang prima. Menjualnya perlu strategi jitu untuk berhasil... Harus ditunjang oleh manajemen keuangan yang multi-disiplin.
MODE dan Aneka adalah satu sinergi marketing yang digagas matang. MODE menerapkan pola bisnis product oriented. Produknya unggul, pencipta tren, kurang berorientasi pasar. Sedang Aneka mengambil jalur market oriented sehingga terbukti bisa menguasai pasar. Dengan strategi sinergi marketing di atas, pesaing tidak ada peluang....
Tidak semua anggota tim penerbitan sadar akan strategi usaha... Terjadilah suatu kejadian.... Aku sebagai pemrakarsa, pencari modal, pencari izin, pembentuk tim... terpaksa harus menerima nasib...aku harus rela Perusahaan yang aku dirikan dengan sepenuh hati... memecatku untuk tidak mengelola MODE selanjutnya...
Untung aku punya Aneka. Aku harus membesarkannya, bersaing dengan produk yang kulahirkan, untuk menang di pasar. Sangat sangat sulit waktu itu... Aku harus menanggung hutang MODE kepada supplier kertas, pencetak dan lain-lain, tapi aku tidak bisa menagih piutang karena perusahaan dikuasai pihak lain....
Tidak terlalu lama...dalam waktu yang relatif singkat, Aneka Yess! menjadi majalah remaja nomor satu untuk oplaag dan awareness, dan MODE salah urus dan akhirnya mati! Sayang ya... tidak bisa terbit lagi.
Allahu Akbar... Allah Maha Besar...
Becik ketitik Ala ketara...
Dengan waktu semua terjawab...
Aku pensiun dengan tertawa... Hahaha...
Becik ketitik Ala ketara...
Dengan waktu semua terjawab...
Aku pensiun dengan tertawa... Hahaha...
~Nuniek Harun Musawa~
Senin, 23 Mei 2016
Hip Hip Hura, Back to 90's Reunion, ex model dan pekerja seni tiga media: Mode, GADIS, Aneka Yess!
![]() |
| Vivid... remaja beruntung mejeng di masa jayanya tiga majalah... |
Masa remaja adalah masa yang paling indah dalam hidup manusia... Remaja berlomba-lomba ingin menjadi cover majalah pada masa jayanya.... Begitulah adanya... muncullah GADIS Sampul, Covergirl dan Coverboy...
Akulah orang yang paling bahagia... karena aku pernah bekerja di Majalah GADIS sebagai Kepala Bagian Iklan selama lebih dari sepuluh tahun. Kemudian Majalah MODE dan Aneka Yess! terbit, aku yang mendirikannya. Idih... risih juga ya... masa' semua aku.... Tapi itulah adanya....
Setelah pensiun kini dan lewatnya masa jaya majalah... aku tetap bahagia.... melihat model dan pekerja seni bisa berkreasi minggu lalu.... Selamat ya semuanya... untuk suksesnya acara reuni. Maaf ya saya absen karena berbarengan dengan doa bersama menjelang puasa dan juga ada manten....
Senang Mbak Vivid yang lebih dari sepuluh tahun belakangan memimpin Aneka Yess! bisa mewakili hadir... Ini kenangan Mbak Vivid mejeng sebagai cover di tiga majalah yang terbit di masa jayanya....
~Nuniek Harun Musawa~
Happy Story... Berkat doa si anak sholeh...
![]() |
| Keluarga Drew bersama anakku, Vivid |
Kini mereka tinggal di Bath, di rumah keluarga yang berupa estate luas... penuh dengan hewan ternak seperti kuda, ayam, kambing, kalkun dan yang lain... di belakang sebuah rumah besar dengan pintu gerbang yang megah....
Sampai saat ini, silaturahmi kami dengan keluarga Drew terjalin terus. Putri sulung saya, Vivid, menyempatkan berkunjung ke keluarga Drew usai menjadi dosen tamu di sebuah kampus di Huddersfield, England, pada 2013. Sebaliknya, keluarga besar Drew selalu mengunjungi kami setiap ke Jakarta.
Ngulik perkenalan awalnya dari dunia maya, kenapa Ayu percaya Jay tidak menipu atau berniat jahat? Ayu sempat cerita, waktu Jay akan menemuinya pertama kali, Jay mengirim uang untuk biaya penjemputan dan akomodasi selama di Indonesia. Dari situ Ayu yakin, Jay tulus dan serius membina hubungan... jelas dia bukan bule penipu. Sebaliknya, Jay percaya kredibiliti Ayu karena dia bekerja di kantor media saya yang websitenya gampang diakses dan meyakinkan.
Ya... namanya berkat doa si anak sholeh... Sudah suratan kali ya... memang sudah takdir jodohnya... Semoga happily ever after... Hahaha....
![]() |
| Keluarga Drew dan cucu-cucuku |
~Nuniek Harun Musawa~
Jumat, 20 Mei 2016
Nuniek Harun Musawa - Founder & Owner Aneka Yess! Group - Dreams, Be Creative and Make It Happen!
Many famous people inspire us, tapi ada seorang Ibu amat sangat menginspirasi kami, YESS! Team untuk selalu concern mewarnai kehidupan remaja Indonesia lewat fun articles and activities. Let's meet pendiri dan pemilik Aneka Yess! Group, Ibu Nuniek H. Musawa. Simak cerita her fun teenage life yang diyakini jadi salah satu kunci sukses karirnya hingga sekarang.
"Mimpi Saya Tidak 'Di-Edit'"
Jangan bayangkan kehidupan remaja di kota modern, ke sekolah diantar mobil mewah dan pulangnya bisa seru hang out di mall. Ibu Nuniek, kelahiran 25 Desember 68 tahun silam, besar di kota Solo, di tengah keluarga bersahaja. Ayahnya seorang kepala sekolah, dan ibunya pedagang di pusat batik Pasar Klewer, Solo.Di masa remajanya, Ibu Nuniek sangat supel, pemberani, kreatif dan berani bermimpi. "Mimpi saya tidak pernah saya 'edit' atau 'di-edit' oleh orang tua saya. Bebas. Ayah saya rajin mengajak nonton film-film luar negeri di bioskop, yang membuat saya berkhayal, 'Suatu saat saya akan ke Hawaii, akan keliling dunia,' Haha...," cerita Ibu Nuniek yang sejak kecil ngefans Elvis Presley ini.
Bikin Puisi di Grojogan Sewu
Ayahanda Ibu Nuniek, yaitu Bapak Goenadi Projomulyono, disebut telah membuat masa remajanya begitu menyenangkan. Pak Goenadi tuh di samping seorang guru, beliau juga seorang seniman lukis yang selalu kreatif meng-create kegiatan untuk anak-anaknya.
"Tiap liburan, Bapak selalu mengajak jalan-jalan pelesir ke tempat-tempat rekreasi wisata, seperti ke Tawangmangu, Kopeng, Bandungan, Parang Tritis, Surabaya dan Jakarta, bahkan wisata religi," cerita Ibu Nuniek yang anak tertua dari sepuluh bersaudara ini.
Yang seru, kalau main di air terjun Grojogan Sewu itu sang ayah kadang meminta anak-anaknya menulis puisi. "Wahh.. itu menyenangkan banget. Sambil duduk-duduk di batu-batu sungai, dikelilingi hutan cemara, kami menulis puisi dan nyanyi bareng. Asiik lho... karena pemandangan indah dan udara sejuk bikin makin terinspirasi kaan. Tak kalah layaknya seperti di film Sound of Music di Zalsburg, Swiss." Wuiihh... seru yaa!
![]() |
| Ibu Nuniek (depan, tengah) bersama sembilan adiknya |
Selalu Cari Pengalaman Baru
Ibu Nuniek nggak mau masa remajanya bisasa saja. "Kalau dibandung teman-teman sekolah saya yang kaya, mereka tuh langit, saya sumur. Jadi bukan bumi lagi, tapi sumur, haha...." kata Ibu Nuniek mengibaratkan.
"Tapi saya tuh selalu berusaha bisa ikut merasakan pengalaman mereka juga. Misalnya, meski keluarga saya bukan orang kaya, saya ingin bisa menikmati berenang di taman rekreasi yang indah. Jadi kami niat banget bersepeda ke kolam renang Tirtomoyo di Jebres, which is itu jauh dari rumah saya, lho. Sekarang kalau saya ingin berenang tinggal nyebur. Rumah-rumah saya semua berkolam renang."
Karena suka nonton film, Ibu Nuniek juga suka berkhayal bisa dekat dengan para seleb. "Jadi kalau ada syuting film di Solo, waah... saya ngejar tu sampai bisa ketemu dan minta tanda-tangan mereka di hotel. Hahaha..."
Kreatif Mengatasi Keterbatasan
Ibu Nuniek juga nggak pernah minder, apalagi surut semangat karena ortunya nggak bisa selalu membelikan apa yang dia inginkan. "Orang tua bukan nggak mampu, tetapi saat itu sulit mencari toko untuk membelikan baju renang. Maka saya jahit sendiri dari bahan selendang batik, dan saya kreasikan jadi keren seperti yang saya lihat di film-film," cerita Ibu Nuniek yang sudah bisa menjahit baju sejak kelas 5 SD ini. Kreatif banget yaa!
Sebagai kakak tertua, Ibu Nuniek punya kewajiban belanja ke pasar setiap pagi sebelum sekolah siang. "Tapi ya saya enjoy aja tiap pagi naik sepeda jengki ke pasar. Pakai baju yang gaya, topi lebar dan sampai keranjang belanja saya hias dengan pita-pita matching dengan baju saya. Belanjaannya pun saya rapikan di keranjang, biar kalau dilihat orang kelihatan tertata rapi dan gaya. Haha... Pokoknya yang penting stylish deeh." Saluut!
Lulusan Terbaik di SMA-nya
Nah, soal prestasi akademis, Ibu Nuniek juga nggak pernah ngeremehin. "Waktu naik kelas 2 SMA, nilai saya bagus sehingga bebas pilih jurusan apa saja. Saya pilih Budaya, dan lulus SMA jadi yang terbaik sampai meraih predikat Pelajar Teladan Cendekia."Wah... hebat kaan. Lagi-lagi, resep jadi pelajar terbaik itu aktif dan kreatif. "Waktu bikin karya tulis tentang kunjungan ke candi-candi, semua teman bikinnya tulisan aja. Nah, saya bikin menarik dengan foto-foto saya di candi-candi itu. Haha... pokoknya narsis, tapi malah dapet nilai bagus," cerita Ibu Nuniek.
Being an Actress, Dreams Come True!
Dengan selalu aktif, maka banyak kesempatan bagus datang. Di masa kuliah, Ibu Nuniek mengikuti pemilihan Ratu Pasar Klewer. "Pemilihan bergengsi saat itu, dan bayangkan saja, saingan saya pakai baju-baju yang bagus. Sementara saya biasa saja, tapi saya buat dengan segala kreasi yang saya bisa."And taddaa! Dengan modal percaya diri tinggi, Ibu Nuniek meraih Juara 1 di kompetisi yang berlangsung tahun 1971 itu. Pemilihan itu lalu membuka banyak peluang untuk Ibu Nuniek berkarir menjadi aktris. Wah, dreams come true!
Kehidupan Ibu Nuniek lalu banyak berubah dengan tinggal di Jakarta, dan bisa menikmati kehidupan kelas atas yang jadi impiannya. Beberapa film yang telah dibintanginya, yaitu Api di Bukit Menoreh (1971), Samtidar (1972), Janur Kuning (1979), juga seriap Keluarga Berencana, dan yang terakhir film Jakarta 66 (1987)
![]() |
| Bahagianya kini bersama putra-putri dan cucu |
Tapi, Ibu Nuniek sempat ngerasa gagal juga. Yaitu saat dia ngga bisa melanjutkan kuliah S1 Hukum-nya. Padahal setelah tinggal di Jakarta dan bekerja di majalah Femina, semua rekan kerjanya berpendidikan lebih tinggi.
"Lagi-lagi saya nggak mau menyerah dengan kekurangan saya saat itu. Saya kejar dengan kerja lebih keras. Ibaratnya rekan kerja bekerja delapan jam, maka saya harus kerja 16 jam. Rekan kerja saya sudah cas cis cus berbahasa Inggris, saya pun 'ngejar' dengan alasan les setelah pulang kerja."
Kreatif mengatasi kekurangan diri, dan gigih mewujudkan impian, membuat karir Ibu Nuniek di dunia media pun maju pesat. Hingga akhirnya bisa bekerja lebih dari 40 tahun selaras dengan hobinya, dan sekarang bisa memiliki grup media antara lain Keren Beken dan Aneka Yess!, dan beberapa media yang lain. Impian bisa keliling dunia telah terwujud, bahkan kini Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya di Melbourne, dan Kuala Lumpur, Bandung dan Bali.
" Buat saya, apa yang saya raih, bukan karena kegigihan saya saja, tapi yang utama adalah rahmat Tuhan adalah rahmat Tuhan yang saya syukuri dengan kerja keras, yang saya yakini bisa memberi berkah," pesan Ibu Nuniek.
Sehari Dua Kali Hamil
Namanya barangkali tak gampang diingat: Trimurni Gunastri Hadiwidjayanti. Maka ia lebih ngepop dipanggil Nuniek. Dilahirkan di Solo 68 tahun lalu, ia memerankan tokoh Ny. Tien, istri Letkol Soeharto dalam film Janur Kuning. Sejak tahun 1971, setelah dinobatkan sebagai Ratu Pasar Klewer oleh Ny. Tien Soeharto, ia mulai mengenal dunia film. Pertama ia muncul sebagai Sekar Mirah, wanita keras hati yang diperebutkan dua perjaka dalam film Api di Bukit Menoreh, lalu tampil pula dalam film Samtidar, dan lain-lain. Main film baginya adalah selingan. Karena sehari-hari sebagai wanita pekerja full time.

Berikut ini ia menuliskan kesan-kesannya sewaktu mengikuti syuting Janur Kuning:
"Setelah genap enam tahun bekerja di majalah, dan tak pernah mimpi atau mengangankan menjadi pemain film kembali, tiba-tiba saya ditawari untuk berperan dalam sebuah film perang. Peran yang tidak tanggung-tanggung: sebagai Ibu Tien Soeharto yang sekarang menjadi Ibu Negara. Bimbang juga rasa hati ini. Saya adalah karyawati yang punya tanggung jawab, di lain pihak ingin juga rasanya untuk dapat berbuat sesuatu di luar kerja rutin yang kadang-kadang terasa menyekap.
Setelah mendapat izin dari kantor, lebih-lebih setelah mengingat bahwa peran yang saya mainkan ini mungkin tak 'kan terulang lagi seumur hidup, maka saya pun berbulat tekad. Tapi barangkali yang lebih memantapkan hati saya adalah, setelah mendapat petunjuk-petunjuk dari Ibu Tien langsung.
Hari pertama pengambilan gambar di Yogyakarta, rasanya saya kikuk sekali karena baru pertama kali itu saya bertemu dengan lawan main saya yang justru harus berperan sebagai suami istri. Sambil berhias dan didandani sebagai wanita hamil, saya ngobrol-ngobrol dengan Bung Kahar agar pada pengambilan gambar berikutnya tidak kaku lagi.

Pada pengambilan gambar hari kedua, saya diberi tahu bahwa shooting adegan hamil tua sudah selesai. Saya pun lega. Handuk, tutup panci dan lain-lain yang membebani perut saya, satu per satu saya tanggalkan. Lalu menginjak pada adegan setelah melahirkan Tutut, putri pertama Ibu Tien. Sesudah action begini-begitu, tiba-tiba saya diberi tahu bahwa ada adegan yang lupa terambil pada periode hamil tua. Wah, kesal juga hati saya. Sudah langsing, disuruh hamil lagi. Kembali saya direpotkan memasang handuk dan tutup panci, berpura-pura hamil.
Bagaimanapun, ini adalah pengalaman yang tak mudah saya lupakan. Bahkan, saya benar-benar seperti mimpi, karena tak disangka-sangka. Tak saya duga karena saya kira dulu Pak Alam hanya main-main saja menawari saya main film. Selama tiga hari itu benar-benar saya sibuk, hingga tidur pun tak lelap, namun semua itu mengasyikan."
Kamis, 19 Mei 2016
Mengenang Ibundaku....
Seorang wanita pengusaha yang tangguh di Solo...
Perias Pengantin jawa gaya Surakarta yang kondang...
Seorang seniman tulen, piawai menari, penabuh semua instrumen gamelan jawa...
Pengendang wanita yang belum tertandingi dan juga bersuara merdu...
Saya sangat bangga... sayang foto beliau ini kwalitasnya kurang prima... tapi cukup menghibur... kusandingkan dengan fotoku di usia yang sama... sama-sama berusia 44 tahun....
Kuunggah bulan ini... karena tanggal 12 Mei adalah hari ulang tahun beliau...
~Nuniek Harun Musawa~
Rabu, 18 Mei 2016
Nostalgia di bulan Mei...
Kebetulan mantu ponakan di Jogja, sempat-sempatin nonton AADC2. Siang di hari berikutnya, nemenin Mas Harun ngopi di Hotel Aman Jiwo, menikmati Bukit Menoreh sebagai background, dan menatap Borobudur di kejauhan.
Membawa anganku ke hampir setengah abad yang lalu, di tahun 1971, aku terlibat dalam pembuatan film kolosal Api di Bukit Menoreh... Film yang diangkat dari novel karya S.H. Mintardja yang dimuat bersambung di koran Kedaulatan Rakyat dan dibukukan. Film yang diproduksi oleh PENAS Film Studio, disutradarai oleh sineas senior Djadoeg Djajakusuma. Pak Djadoeg adalah budayawan yang berkiprah di Dewan Kesenian Jakarta yang juga dosen Film di IKJ.
Lucu ya... romantisme Rangga dan Cinta di Punthuk Setumbu mengingatkanku adegan Agung Sedayu dan gadis desa Sekar Mirah, yang aku perankan dengan Mas Sentot Sudiharto sebagai pemeran utama wanita dan pria. Seruu dan asyik nostalgia syuting di Jogja di bulan Mei yang tak pernah kulupakan.... Jogja memang istimewa... Punya gunung, bukit dan pantai... Banyak setting film di sana.
Sayang ya... mungkin Mira Lesmana dan Riri Riza baru lahir waktu itu... ha ha ha... Senior mereka di IKJ, Pak Djadoeg Djajakusuma, belum menikmati kemajuan teknologi seperti waktu mereka membuat AADC2 saat ini... Jelas lah bedanya... Tapi bagaimanapun, film itu untukku sangat berkesan... yang akhirnya membawa aku, gadis Solo yang juga menari, berkiprah di ibukota....
~Nuniek Harun Musawa~
Membawa anganku ke hampir setengah abad yang lalu, di tahun 1971, aku terlibat dalam pembuatan film kolosal Api di Bukit Menoreh... Film yang diangkat dari novel karya S.H. Mintardja yang dimuat bersambung di koran Kedaulatan Rakyat dan dibukukan. Film yang diproduksi oleh PENAS Film Studio, disutradarai oleh sineas senior Djadoeg Djajakusuma. Pak Djadoeg adalah budayawan yang berkiprah di Dewan Kesenian Jakarta yang juga dosen Film di IKJ.
Lucu ya... romantisme Rangga dan Cinta di Punthuk Setumbu mengingatkanku adegan Agung Sedayu dan gadis desa Sekar Mirah, yang aku perankan dengan Mas Sentot Sudiharto sebagai pemeran utama wanita dan pria. Seruu dan asyik nostalgia syuting di Jogja di bulan Mei yang tak pernah kulupakan.... Jogja memang istimewa... Punya gunung, bukit dan pantai... Banyak setting film di sana.
Sayang ya... mungkin Mira Lesmana dan Riri Riza baru lahir waktu itu... ha ha ha... Senior mereka di IKJ, Pak Djadoeg Djajakusuma, belum menikmati kemajuan teknologi seperti waktu mereka membuat AADC2 saat ini... Jelas lah bedanya... Tapi bagaimanapun, film itu untukku sangat berkesan... yang akhirnya membawa aku, gadis Solo yang juga menari, berkiprah di ibukota....
~Nuniek Harun Musawa~
Selasa, 16 Februari 2016
Resep "Diet Bawal Steam"
Mulai pekan ini, Budhe Nuniek menjalankan
pola makan diet rendah garam dan rendah protein. No protein nabati. Protein hewani dianjurkan, namun dari seafood yang diperbolehkan hanya ikan. Baik ikan air tawar maupun laut.
Diet Bawal Steam
by Harun Musawa
1. Bersihkan ikan. Lumuri
dengan jeruk nipis, garam dan merica. Diamkan 15 menit.
2. Siapkan jahe dan spring
onion (daun bawang), potong lidi. Keprek bawang putih. Taburkan ketiganya di
bawah dan di atas ikan, lalu steam selama 20-30
menit.
3. Menjelang matang,
tambahkan cabai merah yang telah diiris miring.
4. Angkat ikan dari
steamer, siram dengan minyak zaitun panas.
5. Sebagai garnish, taburkan daun ketumbar (kali ini belum beli). Ditanggung mak nyus.
Punya resep menu rendah garam dan rendah protein? Yuk, berbagi di sini!
Selasa, 15 Desember 2015
Tak Pernah Bosan di Bandung, Menikmati Bunga dan Gunung
![]() |
| Bersama Budhe Maryam Musawa dan Pakdhe Ali Shahab di Kawah Putih, Ciwidey, Kab. Bandung |
Tiap kali ke Bandung, Budhe Nuniek hampir selalu menyempatkan
menyusuri jalanan Parongpong -sering disebut juga Parompong- untuk wisata bunga. Parongpong adalah sebuah
kecamatan di Kabupaten Bandung Barat. Biasanya kita akan melewati jalan ini
saat ingin ke Lembang, yang juga berada di kabupaten yang sama. Kebetulan
Parongpong hanya sekitar 20 menit dari kediaman Budhe di Kota Bandung
yakni Cipaku Indah, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap.
![]() |
| Bersama Budhe Maryam Musawa di Parongpong, Kab. Bandung Barat |
Sepanjang jalan, di kanan kiri berjajar rumah penduduk yang berjualan
tanaman. Warga menata dagangannya begitu cantik. Biasanya rumah mereka agak
menjorok ke belakang, pekarangan depan penuh tanaman. Beragam bunga cantik yang
hanya bisa tumbuh sempurna di daerah berhawa dingin, ada di sini. Sebut saja
bunga Terompet, bunga Kertas, bunga Matahari, Wijaya Kusuma, Tapak Dara,
Begonia, Azalea, dan lainnya. Ada semua di Parongpong, dan cantik-cantik deh!
Harganya tergolong murah jika kita membeli yang masih
kecil-kecil. Misalnya tanaman bunga Matahari ukuran sedang, bisa kita dapatkan
dengan harga Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu saja. Tanah di kawasan ini, terutama Lembang, juga dikenal subur. Banyak yang membeli untuk dipakai bercocok tanam di kota lain, seperti Jakarta atau Bogor.
Belanja tanaman di sini sangat seru, tapi kita harus mau repot mengupayakan parkir mobil yang tidak menghalangi jalan. Tidak semua kios memiliki pekarangan untuk parkir. Kalau pas berhenti di kios yang tidak ada parkir, berarti mobil harus di tepi jalan. Sementara jalan di Parongpong tidak terlalu lebar. Jalan dua arah yang masing-masing untuk satu jalur saja.
Belanja tanaman di sini sangat seru, tapi kita harus mau repot mengupayakan parkir mobil yang tidak menghalangi jalan. Tidak semua kios memiliki pekarangan untuk parkir. Kalau pas berhenti di kios yang tidak ada parkir, berarti mobil harus di tepi jalan. Sementara jalan di Parongpong tidak terlalu lebar. Jalan dua arah yang masing-masing untuk satu jalur saja.
Karena parkir yang sulit itu, rasanya ingin jalan kaki saja untuk
pindah dari kios satu ke yang lain. Tapi sayangnya, tidak ada trotoar. Andai
saja pemerintah membangun pedestrian di kanan kiri, alangkah nyamannya.
Wisatawan bisa menikmati keluar masuk kios, atau sekedar cuci mata berwisata
bunga saja sudah bikin hepi deh!
"Warga di sini sudah menata sendiri kawasannya dengan kios-kios
mereka, sampai menjadi pusat wisata bunga yang sangat cantik ini. Nah tinggal
pemerintah seharusnya menyiapkan fasilitas pendukung yaitu trotoar yang lebar
agar wisatawan bisa jalan di sini nyaman dan belanja," kata Budhe.
Well, semoga pemkab setempat do something ya! Tapi soal kondisi jalan, sudah jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu. Aspalnya cukup mulus dan nyaman dilalui.
Well, semoga pemkab setempat do something ya! Tapi soal kondisi jalan, sudah jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu. Aspalnya cukup mulus dan nyaman dilalui.
Kawah Putih
![]() |
| Bersama suami tercinta, Harun Musawa, di Kawah Putih, Ciwidey, Kab. Bandung |
Kalau masih ada waktu luang lagi di Bandung, biasanya Budhe jalan
lebih jauh sedikit, yakni ke Bandung Selatan, sebuah wilayah di Kabupaten
Bandung yang punya beberapa objek wisata alam. Destinasi favoritnya antara lainCiwidey
dan Rancabali. Kecamatan Ciwidey dikenal dengan Kawah Putih. Konon terbentuk
dari letusan Gunung Patuha pada abad ke X. Menyusuri jalan yang menanjak menuju
lokasi kawah, dengan jurang-jurang begitu dalam di kanan kiri, Budhe sambil
membayangkan bagaimana penemunya, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, berjalan kaki
atau mungkin naik kuda saat mencari tahu tentang kawasan ini. Hebat betul ya
Mr. Junghuhn itu! *respect
![]() |
| Bersama Budhe Maryam Musawa di Saung Kecapi, pelataran objek wisata Kawah Putih, Ciwidey, Kab. Bandung |
![]() |
| Bersama Pakdhe Harun Musawa, Budhe Maryam Musawa dan Pakdhe Ali Shahab di Situ Patengan, Rancabali, Kab. Bandung |
Tea Plantation Rancabali
Sejenak menikmati Kawah Putih -aturannya maksimal 15 menit agar tidak
menghirup belerang terlalu lama- Budhe paling suka melanjutkan perjalanan
menuju Situ Patengan. Letaknya di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali. Sekitar
20-30 menit dari Kawah Putih. Tapi bukan Situ Patengan-nya yang Budhe incar. Melainkan perjalanan
dari Kawah Putih menuju Patengan itu, kita akan melewati perkebunan teh di
Rancabali.
Sepanjang jalan, di kanan kiri terhampar perkebunan teh yang begitu
luaaas dan indaaah. "Kebun terlihat seperti permadani yang terbentang luas
begitu cantik," ujar Budhe. Perkebunan di sini di antaranya milik pabrik
Teh Walini.
Sedangkan di Situ Patengan, yang menarik justru kisah di balik di danau itu. Dari cerita Budhe, ada legenda yang menceritakan bahwa danau yang indah itu adalah tempat berdiamnya Dewi Rengganis. Sang Dewi telah menjelma menjadi ikan Silayung yang bentuknya sangat cantik
Overall, memang tak pernah bosan menikmati Bandung....
Sedangkan di Situ Patengan, yang menarik justru kisah di balik di danau itu. Dari cerita Budhe, ada legenda yang menceritakan bahwa danau yang indah itu adalah tempat berdiamnya Dewi Rengganis. Sang Dewi telah menjelma menjadi ikan Silayung yang bentuknya sangat cantik
Overall, memang tak pernah bosan menikmati Bandung....
![]() |
| Budhe Nuniek di salah satu sudut rumahnya di Cipaku Indah, Bandung |
Minggu, 06 Desember 2015
Tepong, Mercy dan AQ Tinggi
Kadang kita ingin melakukan
sesuatu tapi tidak mampu. Atau tidak mendapat kesempatan. Lalu berkata pada
diri sendiri, “Lihat saja, suatu saat aku pasti bisa.” Dan ketika tercapai,
reaksi kita menggelikan saking senangnya.
![]() |
| Foto sebagai ilustrasi. Dokumentasi kitchen.desibantu.com |
Budhe
Nuniek menyebut keadaan itu dengan istilah complex.
Kondisi tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkan, karena tidak mendapat
kesempatan. Ketidakmampuan ini memunculkan tekad bahwa suatu saat pasti bisa,
bahkan lebih.
Complex dalam hal ini tidak negatif lho.
Karena bukan merasa rendah diri yang mengarah ke putus asa. Tapi justru
mendorong kita untuk berjuang.
Salah
satu complex yang dialami Budhe
Nuniek adalah, ketika tidak bisa membeli makanan yang ia inginkan karena
uangnya tak cukup. Budhe mengalami masa kecil dan remaja di tahun 1950 –
1960an. Masa yang amat sulit di negeri ini bagi rakyat biasa. Ayahnya guru,
ibunya pedagang di Pasar Klewer, Solo. Penghasilan harus dikelola cermat untuk
sepuluh anak.
Budhe
kecil –usia SD jelang SMP- sering ke sebuah warung nasi liwet di kampungnya,
Tipes, Solo. Di sana dijual beragam lauk lezat. Zaman itu,
beli tepong sudah amat mewah. Tepong
adalah paha ayam bagian atas yang masih menyatu dengan paha bawah. Hanya
sesekali Budhe bisa membelinya. Mampunya ya beli nasi liwet saja tanpa tambahan
lauk. Tepong-tepong tampak lezat hanya bisa dipandangnya. Bibir ingin mengucap,
“Yu’, tepong ya.” Tapi ucapan
dikendalikan uang di tangan.
Lebih
complex lagi kalau pas berbarengan tetangga
lain yang bisa beli tepong. “Lihat
saja, suatu saat pasti aku bisa (beli tepong
banyak!),” batin Budhe. Bukan iri pada tetangga itu. Bukan pula marah pada
keadaan. Tapi yang dirasakan adalah keyakinan, bahwa suatu saat juga akan bisa
mengalami seperti –tetangga- itu, yakni beli tepong.
Keyakinannya
tidak meleset. Tak bisa menyelesaikan kuliah, Budhe meninggalkan Solo pada
1972, tinggal di Jakarta dan meraih sukses. Ia menjadi Kepala Bagian Iklan
Majalah Femina hingga 1986, kemudian
mendirikan Majalah Mode dan Aneka Yess! (1990-2014).
Lucunya,
Budhe pernah lho melampiaskan keinginannya memborong tepong di warung itu. Puluhan tahun setelah rasa complex di masa kecilnya itu, Budhe berlibur
di Solo dan khusus meluangkan waktu ke warung itu. Diborong deh itu tepong. “Yu’ beli tepong, ati
ampela, telur, sama ini, itu (segala lauk disebut).” Pokoknya Budhe memuaskan
keinginan bibirnya mengucap beli tepong
di warung itu.
Sampai
di hotel, suaminya bingung. Nasi liwet penuh lauk
semua. “Jadi bingung makannya… kebanyakan lauk, hahaha…,” cerita Budhe.
Sepeda dan Mercedes-Benz
Contoh
complex lain adalah soal bersepeda.
Dari kecil hingga remaja, Budhe ke mana-mana naik sepeda. Sebagai anak tertua dari sepuluh bersaudara,
dengan adik nomor dua, tiga, empat, lima hingga enam yang semuanya laki-laki,
Budhe punya banyak tugas rumah tangga membantu ibu. Mulai dari belanja ke
pasar, bersih-bersih rumah, hingga memasak untuk seisi rumah.
Saat
kelas 2 SMA, Budhe memilih jurusan Budaya yang masuk siang. Sebetulnya nilainya
cukup untuk masuk jurusan IPA maupun IPS, tapi ia memang lebih suka budaya.
Ditambah, sekolah siang berarti pagi harinya masih punya waktu untuk belanja
dan mengurus rumah.
Nah,
kegiatan belanja pagi itu seru! Ia harus bersepeda di jalanan kota
Surakata yang kadang panas terik. Mengeluh? Sama sekali tidak. Budhe tipikal yang
sangat menikmati segala tugas dengan riang. Soal panas ia atasi dengan
mengenakan topi lebar ala di pantai. Buatnya, justru itu jadi fashion style.
![]() |
| Foto sebagai ilustrasi. Dokumentasi thinkstockphotos.com.au |
Sepedanya dilengkapi
keranjang di depan. Hasil belanjaan ia tata cantik. Stylish dengan topi
lebarnya, dan keranjang tampak chic
dengan juntaian sayuran. Pokoknya mejeng! Hahaha….
“Ditugasi
belanja naik sepeda itu seneng. Sayuran saya tata cantik di keranjang. Yang
hijau-hijau saya keluarin sedikit, saya juntaikan sampai keluar keranjang. Jadi
dilihat cantik doong. Terus saya pakai topi pantai yang lebar itu. Gaya deh,
hahaha…,” cerita Budhe.
Ke
sekolah, ke Pasar Klewer tempat ibunya berdagang tekstil, atau ke manapun ya lebih
sering naik sepeda. Budhe harus bersepeda membelah Kota Surakarta tiap ingin
berenang. Kolam renang Tirtomoyo ada di Jebres yakni di timur utara. Sedangkan
rumahnya, Kampung Tipes, terletakdi ujung barat selatan. Jadi tiap ingin
berenang, berjuang mengayuh sepeda dari ujung ke ujung.
Nah,
puluhan tahun setelah masa itu, setelah Budhe meraih sukses dan mampu membeli
mobil, complex ia lampiaskan dengan
mengendarai Mercedes-Benz atau BMW seri 7 miliknya di ruas-ruas jalan yang dulu
rutin ia lalui dengan bersepeda.
“Sengaja
nyetir Mercy, atau BMW, di Solo sambil mengenang, ‘Dulu gue selalu lewat jalan
ini naik sepeda, sekarang gue bisa ngebut pakai mobil, hahaha….” Terlebih
memiliki Mercy dan BMW memang cita-citanya. Syukurlah Budhe sempat
memiliki beberapa unit dalam satu waktu. “Kalau Lamborghini memang nggak pengen,
karena (rasanya seperti) ndlosor,
hahaha,” ujarnya,
Complex bisa jadi motivasi kuat meraih
sukses. Bukan sekedar iri nggak jelas atau merasa berhak tanpa perjuangan. Tapi
karena ada complex, maka ada tujuan
spesifik yang ingin kita capai. Untuk sampai pada suatu titik di mana kita bisa
melampiaskan complex, daya juang kita
harus tinggi.
Adversity Quotient
Soal
daya juang ini sangat erat dengan Adversity Quotient atau AQ, faktor kesuksesan
yang dirumuskan Paul G. Stoltz pada 1997. Dalam edukasi.kompas.com Februari
2013 ditulis, AQ menunjukkan kapasitas seseorang dalam menghadapi tekanan atau
ketidaknyamanan. Disebut juga ketahanmalangan, atau kecerdasan menghadapi
kesulitan.
Orang
dengan AQ tinggi dapat segera kembali bangkit setelah gagal.
Mengubah hambatan menjadi peluang. Sebaliknya, orang dengan AQ rendah selalu
menyalahkan lingkungan ketika gagal, sehingga tidak dapat mengambil keputusan
menuju sukses.
Menurut
saya, AQ Budhe Nuniek sangat tinggi. Ia selalu cerdas menghadapi
masalah. Dari hal yang kecil saja. Misalnya, mengayuh sepeda dengan keranjang
penuh hasil belanjaan setiap hari, ia lihat sebagai peluang mejeng. Kesibukan
membantu orang tua juga bukan jadi alasan sekolahnya keteteran. Prestasi di
sekolah tetap gemilang.
Tepong dan sepeda merupakan contoh
kecil. Complex lebih besar dialaminya
saat awal terjun ke dunia kerja pertengahan 1970-an. Pada masa itu, mungkin
juga sampai sekarang, tenaga pemasar iklan di institusi media cetak seolah
warga kasta kelas 2. Kasta tertinggi dimiliki wartawan. Tim redaksi selalu
merasa mereka lah motor perusahaan. Karena mereka lah sebuah media cetak
berwibawa, oplaag besar dan mendulang iklan.
Wartawan
juga yang selalu berkesempatan ke luar negeri. Budhe tentu
tidak bisa iri, sebab meliput acara di luar negeri jelas bukan tugas karyawan divisi
iklan. Tapi sebagai yang selalu bermimpi bisa ke negara-negara maju,
ada pikiran, “Lihat saja, suatu saat gue pasti dapat kesempatan.” Tekad itu
sangat memotivasi.
Berkat
ketekunan, daya juang tinggi, serta menjalankan tiap tugas penuh
semangat dan mengerahkan seluruh kemampuan, Budhe diapresiasi. Menjabat Kepala Bagian Iklan Majalah Femina, ia kemudian cukup sering bertugas ke luar negeri. Salah
satunya dikirim ke Tokyo untuk menjadi chaperone Putri Remaja Indonesia yang
berkompetisi di ajang Miss Young International. Sebelumnya, Femina adalah penyelenggara pemilihan
Putri Remaja Indonesia di Jakarta. Dalam perjalanan ke Jepang itu, ia juga menjalankan
kerja jurnalistik yakni meliput, memotret dan menuliskan liputan acaranya di
majalah.
Ada rasa
puas luar biasa bisa membuktikan pada diri sendiri, “Gue memang bukan wartawan,
tapi dikirim ke luar negeri dan juga menjalankan tugas sebagai wartawan, lho!” Tak
cukup itu, Budhe bahkan menjabat Pemimpin Redaksi di Majalah Aneka Yess! yang didirikannya. Tapi
bukan seenaknya menempati posisi di majalah yang didirikannya sendiri, lho. Di
era Orde Baru, seseorang tidak bisa begitu saja menjadi pemred media seperti
era sekarang. Saat itu Budhe mengikuti prosedur termasuk menjalani pelatihan
ketat di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
Keberhasilan
itu menurut saya karena ada unsur complex
dalam diri Budhe, yang menjadi motivasi kuat. Ditambah tentunya, AQ Budhe
sangat tinggi sejak kecil.
Masih
dalam artikel yang sama di edukasi.kompas.com juga disebutkan, dunia pendidikan
harus memanfaatkan AQ. Kapasitas untuk bisa menghadapi tekanan harus diajarkan
dan dilatih sejak duduk di bangku sekolah. Belajar tidak cukup dengan
pendekatan menyenangkan. Selebihnya, harus menantang agar siswa berlatih
membangun AQ-nya. Karena hidup identik dengan tantangan.
Motivator
Pemuda, Vivid Fitri Argarini sudah sejak beberapa tahun lalu mendengungkan
pentingnya AQ. Dalam wawancaranya dengan detik.com
April 2015 (link artikel) ia menjelaskan, “Ada lagi satu kecerdasan yang sangat
penting selain emosional, spiritual, dan intelegensi, yaitu kecerdasan daya
juang (adversity quotient). Kalau kita sudah bisa konsisten dalam menjalani
suatu hal, tapi tidak ada daya juang dari dalam diri, itu akan susah. Karena
motivasi itu sebetulnya ada di dalam diri sendiri," jelas Vivid yang
merupakan putri pertama Budhe Nuniek ini.
Rabu, 25 November 2015
Kumpul PKK RW Griya Wartawan di Rumah Cipinang
Rabu pagi (25/11/2015), rumah Budhe Nuniek di Kompleks PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), Cipinang Muara yang aslinya sudah cantik dan asri, terlihat lebih fotogenik! Hari itu Budhe siap menyambut sekitar 50-an tamu ibu-ibu RW 09 Griya Wartawan ini.
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat mengadakan kegiatan advokasi untuk mengenal Demensia Alzheimer. Puluhan kursi sudah siap di pendopo, menghadap layar proyektor. Di sekitar pendopo telah ditata meja-meja dengan gelas-gelas cantik, mangkuk dan piring, untuk menyajikan minuman Fruit Punch, Asinan Bogor dan Rujak Parut. Untuk menu makan besarnya, panitia menghadirkan angkringan Soto Kudus Pioneer. Mantap!
Sekitar pukul 8.30 panitia mulai berdatangan, disusul para tamu. Acara ini bekerja sama dengan Laboratorium Klinik Prodia, yang mengenalkan layanannya sekaligus memberi informasi tentang Demensia Alzheimer. Mereka memberi materi bertema "Jangan Maklum dengan Pikun." Demensia Alzheimer dapat berdampak begitu besar, sehingga mengurangi kemampuan kita hidup mandiri," tutur narator dalam video yang diputar sebagai pengantar kegiatan advokasi. Maka para ibu diajak mengenal gejala serta cara pencegahan penyakit ini. Info lengkap tentang Demensia Alzheimer bisa diakses di alzheimerindonesia.org
![]() |
| Bersama panitia acara yakni pengurus PKK RW 09 Kompleks PWI |
Usai pemaparan materi dan tanya jawab, acara semakin seru dengan pengundian doorprize, menyantap hidangan, diiringi solo keyboardist serta beberapa Ibu yang semangat ikut menyanyi. Happy!
![]() |
| Putri pertama Budhe Nuniek, motivator pemuda Vivid F. Argarini ikut menyanyi meramaikan acara :) |
![]() |
| Budhe bersama Ibu Inna Hadad, tetangga yang juga kawan lama sejak di Femina Group |
Langganan:
Postingan (Atom)













































