Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2017

Sinoman*

Nuniek Harun Musawa sinoman solo

Ini fotoku dan kawan-kawan waktu aku remaja, saat menjadi Sinoman… Kebetulan, di Facebook Jeng Weka Binti Gunawan dan Mbak Marulina Pane ngobrolin soal jamuan di Solo…

Ngomongin kuliner Solo, yang istilahnya adalah hanya ada enak dan enak banget, ada suatu kebiasaan unik pada zaman aku remaja… Pada perhelatan adat dan resepsi perkawinan di Solo, penyajian hidangannya sangat unik… Tidak buffet atau prasmanan. Dideskripsikan oleh Mbak Ruli : Tetamu dipersilakan duduk di kursi- kursi yang di depannya ada meja kecil tinggi. Minuman dan hidangan satu per satu diantar. Mulai dengan teh di gelas, lalu sup, lalu dahar (makanan utama), diikuti dengan es/puding. Melayaninya juga cepat karena pelayannya banyak. Cara menjamu seperti itu disebut USDEK (Unjukan/minum), Sup, Dahar/makan; Es; dan Kundur (pulang).

USDEK memang paling lazim... Padahal itu jargonnya Bung Karno, tapi lebih ngetop sebagai sebutan untuk cara menghidangkan makanan pada perhelatan di Solo…

Dan kami, yang remaja-remaja biasanya dipilih untuk mendapat baju kebaya seragam... dan mendapat tugas LADEN… menyampaikan hidangan kepada para tamu... sekalian sebagai sarana oleh orang-orang tua kita... mengumumkan bahwa mereka mempunyai gadis-gadis yang siap diambil menantu... Lucu ya...

*Sinoman artinya nom-noman, “yang muda, yang bergaya” yang dipilih dan diminta oleh yang punya hajat untuk menyajikan hidangan kepada tamu undangan.

~ Nuniek Harun Musawa ~

Rabu, 16 November 2016

Bulan Ayah, Lukisan Bapak...

nuniek harun musawa lukisan goenadi prodjomuljono

Bila kupandang lukisan ini, ingatan melayang ke teras rumah orang tuaku, rumah di mana aku tumbuh... di kota Solo, puluhan tahun silam... tahun 1964... Di bawah pohon bougenvil berbunga orange dan ungu selalu ada kanvas yang disandarkan.... Kanvas Bapak....

Hampir tiap sore Bapak duduk santai di sudut kanan teras itu, usai seharian mengajar. Aku dan adik-adikku, sesudah mandi dan rapi, selalu menghabiskan sore bersama Bapak. Ngobrol segala hal. Beliau adalah tempat kami bertanya apapun. Biasanya, di teras itu Bapak ngopi sambil melukis...

Bapak suka melukis alam. Suatu kali beliau berujar, "Coba kamu tetap duduk di situ ya." Mengarahkanku pada posisi tertentu. "Bapak ingin melukis kamu...."

Wah, rasanya senaaang bukan main. Bapak melukis sambil terus mendengarkan dan menanggapi celotehan kami. Hasil lukisannya bisa kunikmati hingga kini... di lukisan wajahku itu, yang kulihat adalah cinta seorang Bapak...

Selamat BULAN AYAH untuk Bapak dan kawan-kawan yang juga seorang Bapak...
Inilah caraku... cara seorang anak merayakannya...

~ Nuniek Harun Musawa ~

Senin, 03 Oktober 2016

Selamat jalan Ibu Herawati Diah ....


Jumat, 30 September 2016 

Innalillahi wa innaillaihi rojiun...

Pertemuan pertamaku dengan beliau terjadi pada sekitar tahun 1975... Aku menghadap beliau di Hotel Arya Duta kepunyaannya untuk urusan sponsorship Pemilihan Puteri Remaja Indonesia. 
Pertemuan berikutnya... kebetulan kami sering bertemu di acara pengajian Choirunnisa di kediaman ibu Harmoko sebulan sekali... 
Ibu Herawati Diah adalah tokoh pelindung organisasi IKWI, Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia... Aku dan anggota pengurus beberapa kali diundang di Villanya... 
Suatu kebetulan ketika stop over di London dari Chicago... aku dan dua anakku menginap di WISMA MERDEKA kepunyaan Deplu... Berjumpalah aku dengan ibu Diah... Selama di London inilah aku bisa jalan bersama... layaknya seorang ibu dengan putrinya... Ibu Diah sedang incognito, tanpa protokoler seperti biasanya... Beliau menanggalkan semua predikatnya... sebagai seorang pengusaha sukses tetapi waktu itu ibu menjadi seorang ibu yang bersahaja... Beliau bercerita dengan rileks, bercanda dengan anak-anakku dengan Bahasa Inggris... dan aku belajar banyak juga menikmatinya.... 
Foto ini diambil di meja makan waktu breakfast... sangat santai... 
Terakhir aku jumpa beliau di MMC... Beliau menanyakan anakku Adiba... "Bagaimana anakmu yang pintar Bahasa Inggris itu, sudah kawinkah"... Beliau ingat dan tidak pikun... Subhanallah... 
Tulisan ini kutulis di atas kereta Argobromo Anggrek menuju Pekalongan... Aku hanya bisa mengirim doa... Al Fatihah... Semoga khusnul khotimah... Aamiin. 

Selamat jalan ibu Herawati Diah....

~ Nuniek Harun Musawa ~

Selasa, 27 September 2016

Mengenang BAPAKKU

nuniek harun musawa

Bapakku, Raden Goenadi Prodjomuljono, adalah panengah dari lima bersaudara.... Pada zaman perang, beliau pernah menjadi tentara dengan pangkat kapten... Setelah perang usai, beliau kembali ke minat awalnya menjadi pendidik di sekolah teknik... Sampai pensiun beliau adalah kepala sekolah teknik negeri di Surakarta... Saya sangat bangga terhadap Bapak... Beliau mendidik putra-putrinya bahwa belajar adalah sesuatu yang fun... Tidak perlu dengan kening yang berkerut... Hari-hari masa kanak-kanak, kami bersepuluh sampai remaja, selalu bernyanyi bersama... Lagu-lagu tempo dulu dari karya Ismail Marzuki sampai Elvis Presley... Ya kami harus kerja keras, harus juara kelas, tapi kami menikmati prosesnya yang menyenangkan... bukan semata hasil akhirnya.... sehingga saya pernah membuatnya bangga, waktu lulus SMA, saya adalah Pelajar Teladan Cendekia dari SMAN 3 Surakarta… Bapak tidak pernah sekalipun tidak mengajak kami bepergian saat hari libur. Bersama-sama kami ke tempat-tempat wisata... Baik ke gunung maupun ke laut, kami dibuatnya mencintai tanah air... ke barat sampai ke Jakarta, ke timur sampai ke asal kakek di Situbondo dengan pasir putihnya yang menawan... Tiap malam Minggu kami pergi beramai-ramai, keliling kota, berakhir dengan kuliner... kami jelajahi tempat-tempat makan di Solo... duduk ngeriung kami bersama Bapak menikmati nasi liwet asli Baki, gudeg Solo, ketan dan jenangnya Mbok Kedul, nasi tumpangnya Mbah Wido… Kalau pengen sate kita pergi ke Tambak Segaran… Sotonya Soto Triwindu, timlonya Timlo Pak Harjo, kamarbola di Purwosari dan masih banyak lagi yang lain... Sayang...bapak menemani hanya sampai usia 51 tahun, dan bulan depan adalah bulan kelahiran beliau... andai masih hidup... beliau tahun ini berusia 98 tahun… Foto ini adalah foto Bapak dengan pakaian kerja tiap masuk keraton… Pada waktu itu sebagai seorang abdi dalem Keraton Surakarta, Bapak bekerja di bagian Nitikerto... Pekerjaan itu di bawah Pangeran Mangkubumi yang mengurusi bangunan keraton... Foto ini sengaja saya sandingkan… pada umur kami yang kira-kira sama… sama-sama 17 tahun...
~ Nuniek Harun Musawa ~

Jumat, 10 Juni 2016

"Memberi Masukan, Mendapat Tanggapan Positif dan Simpatik"

nuniek harun musawa SEIBU with Joan

Awalnya, hanya ingin memberi masukan peristiwa 28 Mei lalu.... tentang frontliner jutek SEIBU Grand Indonesia.

Menurut saya, usaha kalau mau maju, ya harus mau mendengar kritik dan memperbaikinya.... Itu yang dilakukan oleh SEIBU Grand Indonesia. Saya dihubungi oleh Joan Rais selaku Store Manager, untuk menanggapi keluhan saya. Dengan sangat profesional, dia doing PR yang sangat bagus dan qualified. Saat menemui saya dan Mas Harun di Premium Lounge, terlihat sekali dia bertanggung jawab untuk memperbaiki kinerjanya.

Katanya... dari seribu staf untuk empat lantai SEIBU department store, pastilah ada satu, dua atau tiga yang tidak sesuai harapan. Bisa dimengerti sih... Tapi sebagai konsumen, so pasti... mengharapkan layanan yang selalu prima. Iya khan.....

Saya mengapresiasi SEIBU yang begitu cepat menanggapi situasi dengan sangat baik, untuk memperbaiki pelayanannya kepada pelanggan. Saya sangat menghargainya... Kekecewaan yang saya alami beberapa waktu lalu terasa terobati... Karena pada dasarnya saya adalah pelanggan loyal SEIBU, dan kelihatannya SEIBU merasa harus memberi pelayanan yang prima juga. SEIBU Grand Indonesia, sebagai tempat belanja... nyaman, berkelas, dengan program-program promo yang bagus, selain lokasinya memang sangat strategis...

Alhamdulillah... ternyata SEIBU masih mau mendengar keluhan customer dengan sangat baik....

~Nuniek Harun Musawa~

Jumat, 27 Mei 2016

Frontliner SEIBU Grand Indonesia Jutek

Jumat siang (27/5/2016) saya berbelanja di SEIBU, Grand Indonesia, membeli produk Yves Saint Laurent. Saya pelanggan setia, selalu belanja di situ. Eh kebetulan ada promo mendapat voucher senilai Rp 900 ribu setelah belanja Rp 2 juta, ya alhamdulillah... Katanya, voucher itu hanya diberikan ke 190 orang. Program bagus dong...

Selesai belanja dan membayar dengan Citibank, saya harus ke sebuah front desk untuk mendapat voucher itu. Satu frontliner perempuan di balik meja dengan latar bertuliskan "SERVICE" tengah melayani satu pelanggan. Saya mengantri. Setelah beberapa saat, saya merasa durasi pelayanannya tidak wajar. Terlalu lama. Sementara saya sudah harus ke lokasi lain.

Saya bertanya pada frontliner itu, "apa masih lama?" Tidak dijawab, sampai tiga kali saya bertanya. Alih-alih dengan ramah menunjukkan front desk lain mana yang dapat segera melayani, ia justru memasang wajah kesal dan menjawab dengan nada ketus. "Ya lama!"

Saya melihat sekeliling departement store itu... sepiiii... pengunjung hanya segelintir.
Lalu untuk apa membuat promo memberi voucher, jika kinerja frontlinernya tidak dibenahi....?
Sedang sepi saja tidak dapat memberi pelayanan yang ramah, bagaimana kalau ramai...?
Atau karena saat itu sekitar jam 12 siang... mungkin frontliner itu sedang lapar...? Entah lah...

Meski kemudian saya dilayani dan ia minta maaf, tetap saja saya merasa kok begitu amat ya... Bekerja kok kayak nggak hepi.

Saya menulis ini untuk perbaikan pelayanan. Kepada Sales and Service Manager SEIBU Grand Indonesia, latihlah frontliners Anda dengan lebih baik.

~Nuniek Harun Musawa~

Selasa, 24 Mei 2016

Berkebun di Rumah

Panen hasil kebun rumah belakang pensiunan wartawan... hehehe... Lumayan ya... ada kangkung, caisim, timun, cabe... tomatnya belum matang..

~Nuniek Harun Musawa~

Senin, 23 Mei 2016

Happy Story... Berkat doa si anak sholeh...

Sebelum pensiun, saya adalah penerbit beberapa majalah, salah satunya majalah remaja Aneka Yess!. Anak buahku muda-muda... Salah satu di antaranya adalah Ayu, seorang desainer grafis. Mungil, lucu, simple dan cuek... layaknya generasi Y masa kini, gawai andalan hidupnya....


nuniek harun musawa happy story ayu jay drew
Keluarga Drew bersama anakku, Vivid

Pria muda dari Bath UK, lewat FB kenalan dan akhirnya menikah dengan Ayu. Seru ya... proses kenalannya singkat. Jay Drew, namanya, bela-belain minta izin magang di kantor saya, agar bisa selalu dekat dengan Ayu selama berkunjung ke Indonesia. Kok ya saya itu percaya saja, mereka akhirnya sekantor berdua beberapa lama. Dan serunya lagi, pertemanan itu berlanjut sampai keluarga Jay melamar Ayu di Jakarta.

Kini mereka tinggal di Bath, di rumah keluarga yang berupa estate luas... penuh dengan hewan ternak seperti kuda, ayam, kambing, kalkun dan yang lain... di belakang sebuah rumah besar dengan pintu gerbang yang megah....

Sampai saat ini, silaturahmi kami dengan keluarga Drew terjalin terus. Putri sulung saya, Vivid, menyempatkan berkunjung ke keluarga Drew usai menjadi dosen tamu di sebuah kampus di Huddersfield, England, pada 2013. Sebaliknya, keluarga besar Drew selalu mengunjungi kami setiap ke Jakarta.

Ngulik perkenalan awalnya dari dunia maya, kenapa Ayu percaya Jay tidak menipu atau berniat jahat? Ayu sempat cerita, waktu Jay akan menemuinya pertama kali, Jay mengirim uang untuk biaya penjemputan dan akomodasi selama di Indonesia. Dari situ Ayu yakin, Jay tulus dan serius membina hubungan... jelas dia bukan bule penipu. Sebaliknya, Jay percaya kredibiliti Ayu karena dia bekerja di kantor media saya yang websitenya gampang diakses dan meyakinkan.

Ya... namanya berkat doa si anak sholeh... Sudah suratan kali ya... memang sudah takdir jodohnya... Semoga happily ever after... Hahaha....
nuniek harun musawa happy story ayu
Keluarga Drew dan cucu-cucuku

~Nuniek Harun Musawa~

Minggu, 06 Desember 2015

Tepong, Mercy dan AQ Tinggi

Kadang kita ingin melakukan sesuatu tapi tidak mampu. Atau tidak mendapat kesempatan. Lalu berkata pada diri sendiri, “Lihat saja, suatu saat aku pasti bisa.” Dan ketika tercapai, reaksi kita menggelikan saking senangnya.

Foto sebagai ilustrasi. Dokumentasi kitchen.desibantu.com
Budhe Nuniek menyebut keadaan itu dengan istilah complex. Kondisi tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkan, karena tidak mendapat kesempatan. Ketidakmampuan ini memunculkan tekad bahwa suatu saat pasti bisa, bahkan lebih.

Complex dalam hal ini tidak negatif lho. Karena bukan merasa rendah diri yang mengarah ke putus asa. Tapi justru mendorong kita untuk berjuang.

Salah satu complex yang dialami Budhe Nuniek adalah, ketika tidak bisa membeli makanan yang ia inginkan karena uangnya tak cukup. Budhe mengalami masa kecil dan remaja di tahun 1950 – 1960an. Masa yang amat sulit di negeri ini bagi rakyat biasa. Ayahnya guru, ibunya pedagang di Pasar Klewer, Solo. Penghasilan harus dikelola cermat untuk sepuluh anak.

Budhe kecil –usia SD jelang SMP- sering ke sebuah warung nasi liwet di kampungnya, Tipes, Solo. Di sana dijual beragam lauk lezat. Zaman itu, beli tepong sudah amat mewah. Tepong adalah paha ayam bagian atas yang masih menyatu dengan paha bawah. Hanya sesekali Budhe bisa membelinya. Mampunya ya beli nasi liwet saja tanpa tambahan lauk. Tepong-tepong tampak lezat hanya bisa dipandangnya. Bibir ingin mengucap, “Yu’, tepong ya.” Tapi ucapan dikendalikan uang di tangan.

Lebih complex lagi kalau pas berbarengan tetangga lain yang bisa beli tepong. “Lihat saja, suatu saat pasti aku bisa (beli tepong banyak!),” batin Budhe. Bukan iri pada tetangga itu. Bukan pula marah pada keadaan. Tapi yang dirasakan adalah keyakinan, bahwa suatu saat juga akan bisa mengalami seperti –tetangga- itu, yakni beli tepong.

Keyakinannya tidak meleset. Tak bisa menyelesaikan kuliah, Budhe meninggalkan Solo pada 1972, tinggal di Jakarta dan meraih sukses. Ia menjadi Kepala Bagian Iklan Majalah Femina hingga 1986, kemudian mendirikan Majalah Mode dan Aneka Yess! (1990-2014).

Lucunya, Budhe pernah lho melampiaskan keinginannya memborong tepong di warung itu. Puluhan tahun setelah rasa complex di masa kecilnya itu, Budhe berlibur di Solo dan khusus meluangkan waktu ke warung itu. Diborong deh itu tepong. “Yu’ beli tepong, ati ampela, telur, sama ini, itu (segala lauk disebut).” Pokoknya Budhe memuaskan keinginan bibirnya mengucap beli tepong di warung itu.

Sampai di hotel, suaminya bingung. Nasi liwet penuh lauk semua. “Jadi bingung makannya… kebanyakan lauk, hahaha…,” cerita Budhe.

Sepeda dan Mercedes-Benz

Contoh complex lain adalah soal bersepeda. Dari kecil hingga remaja, Budhe ke mana-mana naik sepeda. Sebagai anak tertua dari sepuluh bersaudara, dengan adik nomor dua, tiga, empat, lima hingga enam yang semuanya laki-laki, Budhe punya banyak tugas rumah tangga membantu ibu. Mulai dari belanja ke pasar, bersih-bersih rumah, hingga memasak untuk seisi rumah.

Saat kelas 2 SMA, Budhe memilih jurusan Budaya yang masuk siang. Sebetulnya nilainya cukup untuk masuk jurusan IPA maupun IPS, tapi ia memang lebih suka budaya. Ditambah, sekolah siang berarti pagi harinya masih punya waktu untuk belanja dan mengurus rumah.

Nah, kegiatan belanja pagi itu seru! Ia harus bersepeda di jalanan kota Surakata yang kadang panas terik. Mengeluh? Sama sekali tidak. Budhe tipikal yang sangat menikmati segala tugas dengan riang. Soal panas ia atasi dengan mengenakan topi lebar ala di pantai. Buatnya, justru itu jadi fashion style.
Foto sebagai ilustrasi. Dokumentasi thinkstockphotos.com.au
Sepedanya dilengkapi keranjang di depan. Hasil belanjaan ia tata cantik. Stylish dengan topi lebarnya, dan keranjang tampak chic dengan juntaian sayuran. Pokoknya mejeng! Hahaha….

“Ditugasi belanja naik sepeda itu seneng. Sayuran saya tata cantik di keranjang. Yang hijau-hijau saya keluarin sedikit, saya juntaikan sampai keluar keranjang. Jadi dilihat cantik doong. Terus saya pakai topi pantai yang lebar itu. Gaya deh, hahaha…,” cerita Budhe.

Ke sekolah, ke Pasar Klewer tempat ibunya berdagang tekstil, atau ke manapun ya lebih sering naik sepeda. Budhe harus bersepeda membelah Kota Surakarta tiap ingin berenang. Kolam renang Tirtomoyo ada di Jebres yakni di timur utara. Sedangkan rumahnya, Kampung Tipes, terletakdi ujung barat selatan. Jadi tiap ingin berenang, berjuang mengayuh sepeda dari ujung ke ujung.

Nah, puluhan tahun setelah masa itu, setelah Budhe meraih sukses dan mampu membeli mobil, complex ia lampiaskan dengan mengendarai Mercedes-Benz atau BMW seri 7 miliknya di ruas-ruas jalan yang dulu rutin ia lalui dengan bersepeda.

“Sengaja nyetir Mercy, atau BMW, di Solo sambil mengenang, ‘Dulu gue selalu lewat jalan ini naik sepeda, sekarang gue bisa ngebut pakai mobil, hahaha….” Terlebih memiliki Mercy dan BMW memang cita-citanya. Syukurlah Budhe sempat memiliki beberapa unit dalam satu waktu. “Kalau Lamborghini memang nggak pengen, karena (rasanya seperti) ndlosor, hahaha,” ujarnya,

Complex bisa jadi motivasi kuat meraih sukses. Bukan sekedar iri nggak jelas atau merasa berhak tanpa perjuangan. Tapi karena ada complex, maka ada tujuan spesifik yang ingin kita capai. Untuk sampai pada suatu titik di mana kita bisa melampiaskan complex, daya juang kita harus tinggi.

Adversity Quotient

Soal daya juang ini sangat erat dengan Adversity Quotient atau AQ, faktor kesuksesan yang dirumuskan Paul G. Stoltz pada 1997. Dalam edukasi.kompas.com Februari 2013 ditulis, AQ menunjukkan kapasitas seseorang dalam menghadapi tekanan atau ketidaknyamanan. Disebut juga ketahanmalangan, atau kecerdasan menghadapi kesulitan.

Orang dengan AQ tinggi dapat segera kembali bangkit setelah gagal. Mengubah hambatan menjadi peluang. Sebaliknya, orang dengan AQ rendah selalu menyalahkan lingkungan ketika gagal, sehingga tidak dapat mengambil keputusan menuju sukses.

Menurut saya, AQ Budhe Nuniek sangat tinggi. Ia selalu cerdas menghadapi masalah. Dari hal yang kecil saja. Misalnya, mengayuh sepeda dengan keranjang penuh hasil belanjaan setiap hari, ia lihat sebagai peluang mejeng. Kesibukan membantu orang tua juga bukan jadi alasan sekolahnya keteteran. Prestasi di sekolah tetap gemilang.

Tepong dan sepeda merupakan contoh kecil. Complex lebih besar dialaminya saat awal terjun ke dunia kerja pertengahan 1970-an. Pada masa itu, mungkin juga sampai sekarang, tenaga pemasar iklan di institusi media cetak seolah warga kasta kelas 2. Kasta tertinggi dimiliki wartawan. Tim redaksi selalu merasa mereka lah motor perusahaan. Karena mereka lah sebuah media cetak berwibawa, oplaag besar dan mendulang iklan.

Wartawan juga yang selalu berkesempatan ke luar negeri. Budhe tentu tidak bisa iri, sebab meliput acara di luar negeri jelas bukan tugas karyawan divisi iklan. Tapi sebagai yang selalu bermimpi bisa ke negara-negara maju, ada pikiran, “Lihat saja, suatu saat gue pasti dapat kesempatan.” Tekad itu sangat memotivasi.

Berkat ketekunan, daya juang tinggi, serta menjalankan tiap tugas penuh semangat dan mengerahkan seluruh kemampuan, Budhe diapresiasi. Menjabat Kepala Bagian Iklan Majalah Femina, ia kemudian cukup sering bertugas ke luar negeri. Salah satunya dikirim ke Tokyo untuk menjadi chaperone Putri Remaja Indonesia yang berkompetisi di ajang Miss Young International. Sebelumnya, Femina adalah penyelenggara pemilihan Putri Remaja Indonesia di Jakarta. Dalam perjalanan ke Jepang itu, ia juga menjalankan kerja jurnalistik yakni meliput, memotret dan menuliskan liputan acaranya di majalah.

Ada rasa puas luar biasa bisa membuktikan pada diri sendiri, “Gue memang bukan wartawan, tapi dikirim ke luar negeri dan juga menjalankan tugas sebagai wartawan, lho!” Tak cukup itu, Budhe bahkan menjabat Pemimpin Redaksi di Majalah Aneka Yess! yang didirikannya. Tapi bukan seenaknya menempati posisi di majalah yang didirikannya sendiri, lho. Di era Orde Baru, seseorang tidak bisa begitu saja menjadi pemred media seperti era sekarang. Saat itu Budhe mengikuti prosedur termasuk menjalani pelatihan ketat di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Keberhasilan itu menurut saya karena ada unsur complex dalam diri Budhe, yang menjadi motivasi kuat. Ditambah tentunya, AQ Budhe sangat tinggi sejak kecil.

Masih dalam artikel yang sama di edukasi.kompas.com juga disebutkan, dunia pendidikan harus memanfaatkan AQ. Kapasitas untuk bisa menghadapi tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak duduk di bangku sekolah. Belajar tidak cukup dengan pendekatan menyenangkan. Selebihnya, harus menantang agar siswa berlatih membangun AQ-nya. Karena hidup identik dengan tantangan.

Motivator Pemuda, Vivid Fitri Argarini sudah sejak beberapa tahun lalu mendengungkan pentingnya AQ. Dalam wawancaranya dengan detik.com April 2015 (link artikel) ia menjelaskan, “Ada lagi satu kecerdasan yang sangat penting selain emosional, spiritual, dan intelegensi, yaitu kecerdasan daya juang (adversity quotient). Kalau kita sudah bisa konsisten dalam menjalani suatu hal, tapi tidak ada daya juang dari dalam diri, itu akan susah. Karena motivasi itu sebetulnya ada di dalam diri sendiri," jelas Vivid yang merupakan putri pertama Budhe Nuniek ini.