Tampilkan postingan dengan label Tentang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2016

Bulan Ayah, Lukisan Bapak...

nuniek harun musawa lukisan goenadi prodjomuljono

Bila kupandang lukisan ini, ingatan melayang ke teras rumah orang tuaku, rumah di mana aku tumbuh... di kota Solo, puluhan tahun silam... tahun 1964... Di bawah pohon bougenvil berbunga orange dan ungu selalu ada kanvas yang disandarkan.... Kanvas Bapak....

Hampir tiap sore Bapak duduk santai di sudut kanan teras itu, usai seharian mengajar. Aku dan adik-adikku, sesudah mandi dan rapi, selalu menghabiskan sore bersama Bapak. Ngobrol segala hal. Beliau adalah tempat kami bertanya apapun. Biasanya, di teras itu Bapak ngopi sambil melukis...

Bapak suka melukis alam. Suatu kali beliau berujar, "Coba kamu tetap duduk di situ ya." Mengarahkanku pada posisi tertentu. "Bapak ingin melukis kamu...."

Wah, rasanya senaaang bukan main. Bapak melukis sambil terus mendengarkan dan menanggapi celotehan kami. Hasil lukisannya bisa kunikmati hingga kini... di lukisan wajahku itu, yang kulihat adalah cinta seorang Bapak...

Selamat BULAN AYAH untuk Bapak dan kawan-kawan yang juga seorang Bapak...
Inilah caraku... cara seorang anak merayakannya...

~ Nuniek Harun Musawa ~

Senin, 10 Oktober 2016

PAMER CUCU


Bapak, ini pertanggungan jawab anak-anak seorang guru. Putra-putrimu bersepuluh, yang sekarang tinggal tujuh... nomor tiga, lima dan tujuh sudah mendahului menghadap-Nya menemanimu dan ibu...

Cucumu sekarang berjumlah 24 orang. Terdiri dari 10 laki-laki dan 14 perempuan. Alhamdulillah ada doktor ada dokter, empat master lulusan Amerika, Taiwan ada juga yang ITB... sedangkan yang lain lulusan Melbourne Uni, RMIT, UI, UGM, ITB, ITS, UNDIP, UNIKA ATMAJAYA, UNJ, UPH, SARJANA WIYATA JOGYA, dan yang bungsu masih berada di SMA DE BRITO Yogyakarta.

Mereka ini adalah penerusmu, tunas-tunas bangsa penerus cita citamu... Mereka lahir dari anak-anakmu yang waktu kau tinggalkan menghadap-Nya, tiada satupun yang lulus sarjana dan berkeluarga... bahkan anak bungsumu yang terkecil masih berusia 7 bulan saat itu... Anak bungsu itu kini adalah seorang doktor/Phd lulusan Korea Selatan, masternya ia selesaikan di UGM dan sekarang menjadi guru seperti engkau dulu, mengajar di UGM pula... dan yang lain, dengan kegigihan ibu, hampir semua lulus sarjana, kecuali si sulung... aku...

Bapak, hari ini... di hari kelahiranmu, kami semua berdoa semoga Bapak bahagia dan lega... Cucu-cucumu mendapatkan ridho-Nya, mereka menjadi orang-orang yang kebeneran, sesuai doamu dulu... tiada satupun yang nakal... semoga ini membuatmu tersenyum... Oh ya... cicitmu 12 orang sekarang ini... dan cicit sulungmu, yang kebetulan cucu sulungku juga... kini sedang menempuh studinya di Jerman....

ALHAMDULILLAH....

AL FATEHAH untuk Bapakku R. Goenadi Prodjomulyono dan BERKAH DALEM GUSTI untuk ibuku Anastasia Soelastri Nurhayati.

~ Nuniek Harun Musawa ~

Kamis, 29 September 2016

Kenangan Penataran P4


Pada era Orde Baru... untuk menjadi pemimpin redaksi media cetak, siapapun harus lulus penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) .... Saya menjalaninya untuk menjadi pemred Aneka Yess!, majalah yang paling besar oplaag dan readershipnya selama beberapa tahun berturut-turut menurut AC Nielsen...

Penataran satu bulan penuh, super disiplin. Tidak boleh sekalipun terlambat apalagi absen... Syarat tak cukup itu.... Selain harus anggota PWI, juga harus mendapat rekomendasi dari PWI. Ditambah rekomendasi dari pemred media cetak lain yang sudah aktif beberapa lama. Semua harus dipenuhi dengan ketat....

Luar biasa birokrasinya.. Yang sekarang sudah jauh lebih longgar... Betapa semua itu membutuhkan kesabaran tinggi dan ketekunan hati... Namun rasanya pengalaman penataran tetap menyenangkan, terlihat dari fotoku ini...hehehe....

~ Nuniek Harun Musawa ~

Selasa, 27 September 2016

Mengenang BAPAKKU

nuniek harun musawa

Bapakku, Raden Goenadi Prodjomuljono, adalah panengah dari lima bersaudara.... Pada zaman perang, beliau pernah menjadi tentara dengan pangkat kapten... Setelah perang usai, beliau kembali ke minat awalnya menjadi pendidik di sekolah teknik... Sampai pensiun beliau adalah kepala sekolah teknik negeri di Surakarta... Saya sangat bangga terhadap Bapak... Beliau mendidik putra-putrinya bahwa belajar adalah sesuatu yang fun... Tidak perlu dengan kening yang berkerut... Hari-hari masa kanak-kanak, kami bersepuluh sampai remaja, selalu bernyanyi bersama... Lagu-lagu tempo dulu dari karya Ismail Marzuki sampai Elvis Presley... Ya kami harus kerja keras, harus juara kelas, tapi kami menikmati prosesnya yang menyenangkan... bukan semata hasil akhirnya.... sehingga saya pernah membuatnya bangga, waktu lulus SMA, saya adalah Pelajar Teladan Cendekia dari SMAN 3 Surakarta… Bapak tidak pernah sekalipun tidak mengajak kami bepergian saat hari libur. Bersama-sama kami ke tempat-tempat wisata... Baik ke gunung maupun ke laut, kami dibuatnya mencintai tanah air... ke barat sampai ke Jakarta, ke timur sampai ke asal kakek di Situbondo dengan pasir putihnya yang menawan... Tiap malam Minggu kami pergi beramai-ramai, keliling kota, berakhir dengan kuliner... kami jelajahi tempat-tempat makan di Solo... duduk ngeriung kami bersama Bapak menikmati nasi liwet asli Baki, gudeg Solo, ketan dan jenangnya Mbok Kedul, nasi tumpangnya Mbah Wido… Kalau pengen sate kita pergi ke Tambak Segaran… Sotonya Soto Triwindu, timlonya Timlo Pak Harjo, kamarbola di Purwosari dan masih banyak lagi yang lain... Sayang...bapak menemani hanya sampai usia 51 tahun, dan bulan depan adalah bulan kelahiran beliau... andai masih hidup... beliau tahun ini berusia 98 tahun… Foto ini adalah foto Bapak dengan pakaian kerja tiap masuk keraton… Pada waktu itu sebagai seorang abdi dalem Keraton Surakarta, Bapak bekerja di bagian Nitikerto... Pekerjaan itu di bawah Pangeran Mangkubumi yang mengurusi bangunan keraton... Foto ini sengaja saya sandingkan… pada umur kami yang kira-kira sama… sama-sama 17 tahun...
~ Nuniek Harun Musawa ~

Jumat, 20 Mei 2016

Nuniek Harun Musawa - Founder & Owner Aneka Yess! Group - Dreams, Be Creative and Make It Happen!


Many famous people inspire us, tapi ada seorang Ibu amat sangat menginspirasi kami, YESS! Team untuk selalu concern mewarnai kehidupan remaja Indonesia lewat fun articles and activities. Let's meet pendiri dan pemilik Aneka Yess! Group, Ibu Nuniek H. Musawa. Simak cerita her fun teenage life yang diyakini jadi salah satu kunci sukses karirnya hingga sekarang.

"Mimpi Saya Tidak 'Di-Edit'"
Jangan bayangkan kehidupan remaja di kota modern, ke sekolah diantar mobil mewah dan pulangnya bisa seru hang out di mall. Ibu Nuniek, kelahiran 25 Desember 68 tahun silam, besar di kota Solo, di tengah keluarga bersahaja. Ayahnya seorang kepala sekolah, dan ibunya pedagang di pusat batik Pasar Klewer, Solo.

Di masa remajanya, Ibu Nuniek sangat supel, pemberani, kreatif dan berani bermimpi. "Mimpi saya tidak pernah saya 'edit' atau 'di-edit' oleh orang tua saya. Bebas. Ayah saya rajin mengajak nonton film-film luar negeri di bioskop, yang membuat saya berkhayal, 'Suatu saat saya akan ke Hawaii, akan keliling dunia,' Haha...," cerita Ibu Nuniek yang sejak kecil ngefans Elvis Presley ini.


Bikin Puisi di Grojogan Sewu
Ayahanda Ibu Nuniek, yaitu Bapak Goenadi Projomulyono, disebut telah membuat masa remajanya begitu menyenangkan. Pak Goenadi tuh di samping seorang guru, beliau juga seorang seniman lukis yang selalu kreatif meng-create kegiatan untuk anak-anaknya.

"Tiap liburan, Bapak selalu mengajak jalan-jalan pelesir ke tempat-tempat rekreasi wisata, seperti ke Tawangmangu, Kopeng, Bandungan, Parang Tritis, Surabaya dan Jakarta, bahkan wisata religi," cerita Ibu Nuniek yang anak tertua dari sepuluh bersaudara ini.

Yang seru, kalau main di air terjun Grojogan Sewu itu sang ayah kadang meminta anak-anaknya menulis puisi. "Wahh.. itu menyenangkan banget. Sambil duduk-duduk di batu-batu sungai, dikelilingi hutan cemara, kami menulis puisi dan nyanyi bareng. Asiik lho... karena pemandangan indah dan udara sejuk bikin makin terinspirasi kaan. Tak kalah layaknya seperti di film Sound of Music di Zalsburg, Swiss." Wuiihh... seru yaa!

Ibu Nuniek (depan, tengah) bersama sembilan adiknya

Selalu Cari Pengalaman Baru

Ibu Nuniek nggak mau masa remajanya bisasa saja. "Kalau dibandung teman-teman sekolah saya yang kaya, mereka tuh langit, saya sumur. Jadi bukan bumi lagi, tapi sumur, haha...." kata Ibu Nuniek mengibaratkan.

"Tapi saya tuh selalu berusaha bisa ikut merasakan pengalaman mereka juga. Misalnya, meski keluarga saya bukan orang kaya, saya ingin bisa menikmati berenang di taman rekreasi yang indah. Jadi kami niat banget bersepeda ke kolam renang Tirtomoyo di Jebres, which is itu jauh dari rumah saya, lho. Sekarang kalau saya ingin berenang tinggal nyebur. Rumah-rumah saya semua berkolam renang."

Karena suka nonton film, Ibu Nuniek juga suka berkhayal bisa dekat dengan para seleb. "Jadi kalau ada syuting film di Solo, waah... saya ngejar tu sampai bisa ketemu dan minta tanda-tangan mereka di hotel. Hahaha..."
 Kreatif Mengatasi Keterbatasan
Ibu Nuniek juga nggak pernah minder, apalagi surut semangat karena ortunya nggak bisa selalu membelikan apa yang dia inginkan. "Orang tua bukan nggak mampu, tetapi saat itu sulit mencari toko untuk membelikan baju renang. Maka saya jahit sendiri dari bahan selendang batik, dan saya kreasikan jadi keren seperti yang saya lihat di film-film," cerita Ibu Nuniek yang sudah bisa menjahit baju sejak kelas 5 SD ini. Kreatif banget yaa!

Sebagai kakak tertua, Ibu Nuniek punya kewajiban belanja ke pasar setiap pagi sebelum sekolah siang. "Tapi ya saya enjoy aja tiap pagi naik sepeda jengki ke pasar. Pakai baju yang gaya, topi lebar dan sampai keranjang belanja saya hias dengan pita-pita matching dengan baju saya. Belanjaannya pun saya rapikan di keranjang, biar kalau dilihat orang kelihatan tertata rapi dan gaya. Haha... Pokoknya yang penting stylish deeh." Saluut!



Lulusan Terbaik di SMA-nya
Nah, soal prestasi akademis, Ibu Nuniek juga nggak pernah ngeremehin. "Waktu naik kelas 2 SMA, nilai saya bagus sehingga bebas pilih jurusan apa saja. Saya pilih Budaya, dan lulus SMA jadi yang terbaik sampai meraih predikat Pelajar Teladan Cendekia."

Wah... hebat kaan. Lagi-lagi, resep jadi pelajar terbaik itu aktif dan kreatif. "Waktu bikin karya tulis tentang kunjungan ke candi-candi, semua teman bikinnya tulisan aja. Nah, saya bikin menarik dengan foto-foto saya di candi-candi itu. Haha... pokoknya narsis, tapi malah dapet nilai bagus," cerita Ibu Nuniek.



Being an Actress, Dreams Come True!
Dengan selalu aktif, maka banyak kesempatan bagus datang. Di masa kuliah, Ibu Nuniek mengikuti pemilihan Ratu Pasar Klewer. "Pemilihan bergengsi saat itu, dan bayangkan saja, saingan saya pakai baju-baju yang bagus. Sementara saya biasa saja, tapi saya buat dengan segala kreasi yang saya bisa."
And taddaa! Dengan modal percaya diri tinggi, Ibu Nuniek meraih Juara 1 di kompetisi yang berlangsung tahun 1971 itu. Pemilihan itu lalu membuka banyak peluang untuk Ibu Nuniek berkarir menjadi aktris. Wah, dreams come true!

Kehidupan Ibu Nuniek lalu banyak berubah dengan tinggal di Jakarta, dan bisa menikmati kehidupan kelas atas yang jadi impiannya. Beberapa film yang telah dibintanginya, yaitu Api di Bukit Menoreh (1971), Samtidar (1972), Janur Kuning (1979), juga seriap Keluarga Berencana, dan yang terakhir film Jakarta 66 (1987)

Bahagianya kini bersama putra-putri dan cucu
How to Deal with Failure
Tapi, Ibu Nuniek sempat ngerasa gagal juga. Yaitu saat dia ngga bisa melanjutkan kuliah S1 Hukum-nya. Padahal setelah tinggal di Jakarta dan bekerja di majalah Femina, semua rekan kerjanya berpendidikan lebih tinggi.

"Lagi-lagi saya nggak mau menyerah dengan kekurangan saya saat itu. Saya kejar dengan kerja lebih keras. Ibaratnya rekan kerja bekerja delapan jam, maka saya harus kerja 16 jam. Rekan kerja saya sudah cas cis cus berbahasa Inggris, saya pun 'ngejar' dengan alasan les setelah pulang kerja."

Kreatif mengatasi kekurangan diri, dan gigih mewujudkan impian, membuat karir Ibu Nuniek di dunia media pun maju pesat. Hingga akhirnya bisa bekerja lebih dari 40 tahun selaras dengan hobinya, dan sekarang bisa memiliki grup media antara lain Keren Beken dan Aneka Yess!, dan beberapa media yang lain. Impian bisa keliling dunia telah terwujud, bahkan kini Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya di Melbourne, dan Kuala Lumpur, Bandung dan Bali.

" Buat saya, apa yang saya raih, bukan karena kegigihan saya saja, tapi yang utama adalah rahmat Tuhan adalah rahmat Tuhan yang saya syukuri dengan kerja keras, yang saya yakini  bisa memberi berkah," pesan Ibu Nuniek.

Sehari Dua Kali Hamil

nuniek harun musawa janur kuning

Namanya barangkali tak gampang diingat: Trimurni Gunastri Hadiwidjayanti. Maka ia lebih ngepop dipanggil Nuniek. Dilahirkan di Solo 68 tahun lalu, ia memerankan tokoh Ny. Tien, istri Letkol Soeharto dalam film Janur Kuning. Sejak tahun 1971, setelah dinobatkan sebagai Ratu Pasar Klewer oleh Ny. Tien Soeharto, ia mulai mengenal dunia film. Pertama ia muncul sebagai Sekar Mirah, wanita keras hati yang diperebutkan dua perjaka dalam film Api di Bukit Menoreh, lalu tampil pula dalam film Samtidar, dan lain-lain. Main film baginya adalah selingan. Karena sehari-hari sebagai wanita pekerja full time.

nuniek harun musawa janur kuning

Berikut ini ia menuliskan kesan-kesannya sewaktu mengikuti syuting Janur Kuning:

"Setelah genap enam tahun bekerja di majalah, dan tak pernah mimpi atau mengangankan menjadi pemain film kembali, tiba-tiba saya ditawari untuk berperan dalam sebuah film perang. Peran yang tidak tanggung-tanggung: sebagai Ibu Tien Soeharto yang sekarang menjadi Ibu Negara. Bimbang juga rasa hati ini. Saya adalah karyawati yang punya tanggung jawab, di lain pihak ingin juga rasanya untuk dapat berbuat sesuatu di luar kerja rutin yang kadang-kadang terasa menyekap.

Setelah mendapat izin dari kantor, lebih-lebih setelah mengingat bahwa peran yang saya mainkan ini mungkin tak 'kan terulang lagi seumur hidup, maka saya pun berbulat tekad. Tapi barangkali yang lebih memantapkan hati saya adalah, setelah mendapat petunjuk-petunjuk dari Ibu Tien langsung.

Hari pertama pengambilan gambar di Yogyakarta, rasanya saya kikuk sekali karena baru pertama kali itu saya bertemu dengan lawan main saya yang justru harus berperan sebagai suami istri. Sambil berhias dan didandani sebagai wanita hamil, saya ngobrol-ngobrol dengan Bung Kahar agar pada pengambilan gambar berikutnya tidak kaku lagi.

nuniek harun musawa janur kuning

Pada pengambilan gambar hari kedua, saya diberi tahu bahwa shooting adegan hamil tua sudah selesai. Saya pun lega. Handuk, tutup panci dan lain-lain yang membebani perut saya, satu per satu saya tanggalkan. Lalu menginjak pada adegan setelah melahirkan Tutut, putri pertama Ibu Tien. Sesudah action begini-begitu, tiba-tiba saya diberi tahu bahwa ada adegan yang lupa terambil pada periode hamil tua. Wah, kesal juga hati saya. Sudah langsing, disuruh hamil lagi. Kembali saya direpotkan memasang handuk dan tutup panci, berpura-pura hamil.

Bagaimanapun, ini adalah pengalaman yang tak mudah saya lupakan. Bahkan, saya benar-benar seperti mimpi, karena tak disangka-sangka. Tak saya duga karena saya kira dulu Pak Alam hanya main-main saja menawari saya main film. Selama tiga hari itu benar-benar saya sibuk, hingga tidur pun tak lelap, namun semua itu mengasyikan."

Kamis, 19 Mei 2016

Mengenang Ibundaku....

nuniek harun musawa dan soelastri

Seorang wanita pengusaha yang tangguh di Solo...
Perias Pengantin jawa gaya Surakarta yang kondang...
Seorang seniman tulen, piawai menari, penabuh semua instrumen gamelan jawa...
Pengendang wanita yang belum tertandingi dan juga bersuara merdu...

Saya sangat bangga... sayang foto beliau ini kwalitasnya kurang prima... tapi cukup menghibur... kusandingkan dengan fotoku di usia yang sama... sama-sama berusia 44 tahun....
Kuunggah bulan ini... karena tanggal 12 Mei adalah hari ulang tahun beliau...

~Nuniek Harun Musawa~

Rabu, 18 Mei 2016

Nostalgia di bulan Mei...

Nuniek di Api di Bukit Menoreh
Kebetulan mantu ponakan di Jogja, sempat-sempatin nonton AADC2. Siang di hari berikutnya, nemenin Mas Harun ngopi di Hotel Aman Jiwo, menikmati Bukit Menoreh sebagai background, dan menatap Borobudur di kejauhan.

Membawa anganku ke hampir setengah abad yang lalu, di tahun 1971, aku terlibat dalam pembuatan film kolosal Api di Bukit Menoreh... Film yang diangkat dari novel karya S.H. Mintardja yang dimuat bersambung di koran Kedaulatan Rakyat dan dibukukan. Film yang diproduksi oleh PENAS Film Studio, disutradarai oleh sineas senior Djadoeg Djajakusuma. Pak Djadoeg adalah budayawan yang berkiprah di Dewan Kesenian Jakarta yang juga dosen Film di IKJ.

Lucu ya... romantisme Rangga dan Cinta di Punthuk Setumbu mengingatkanku adegan Agung Sedayu dan gadis desa Sekar Mirah, yang aku perankan dengan Mas Sentot Sudiharto sebagai pemeran utama wanita dan pria. Seruu dan asyik nostalgia syuting di Jogja di bulan Mei yang tak pernah kulupakan.... Jogja memang istimewa... Punya gunung, bukit dan pantai... Banyak setting film di sana.

Sayang ya... mungkin Mira Lesmana dan Riri Riza baru lahir waktu itu... ha ha ha... Senior mereka di IKJ, Pak Djadoeg Djajakusuma, belum menikmati kemajuan teknologi seperti waktu mereka membuat AADC2 saat ini... Jelas lah bedanya... Tapi bagaimanapun, film itu untukku sangat berkesan... yang akhirnya membawa aku, gadis Solo yang juga menari, berkiprah di ibukota....

~Nuniek Harun Musawa~

Minggu, 06 Desember 2015

Tepong, Mercy dan AQ Tinggi

Kadang kita ingin melakukan sesuatu tapi tidak mampu. Atau tidak mendapat kesempatan. Lalu berkata pada diri sendiri, “Lihat saja, suatu saat aku pasti bisa.” Dan ketika tercapai, reaksi kita menggelikan saking senangnya.

Foto sebagai ilustrasi. Dokumentasi kitchen.desibantu.com
Budhe Nuniek menyebut keadaan itu dengan istilah complex. Kondisi tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkan, karena tidak mendapat kesempatan. Ketidakmampuan ini memunculkan tekad bahwa suatu saat pasti bisa, bahkan lebih.

Complex dalam hal ini tidak negatif lho. Karena bukan merasa rendah diri yang mengarah ke putus asa. Tapi justru mendorong kita untuk berjuang.

Salah satu complex yang dialami Budhe Nuniek adalah, ketika tidak bisa membeli makanan yang ia inginkan karena uangnya tak cukup. Budhe mengalami masa kecil dan remaja di tahun 1950 – 1960an. Masa yang amat sulit di negeri ini bagi rakyat biasa. Ayahnya guru, ibunya pedagang di Pasar Klewer, Solo. Penghasilan harus dikelola cermat untuk sepuluh anak.

Budhe kecil –usia SD jelang SMP- sering ke sebuah warung nasi liwet di kampungnya, Tipes, Solo. Di sana dijual beragam lauk lezat. Zaman itu, beli tepong sudah amat mewah. Tepong adalah paha ayam bagian atas yang masih menyatu dengan paha bawah. Hanya sesekali Budhe bisa membelinya. Mampunya ya beli nasi liwet saja tanpa tambahan lauk. Tepong-tepong tampak lezat hanya bisa dipandangnya. Bibir ingin mengucap, “Yu’, tepong ya.” Tapi ucapan dikendalikan uang di tangan.

Lebih complex lagi kalau pas berbarengan tetangga lain yang bisa beli tepong. “Lihat saja, suatu saat pasti aku bisa (beli tepong banyak!),” batin Budhe. Bukan iri pada tetangga itu. Bukan pula marah pada keadaan. Tapi yang dirasakan adalah keyakinan, bahwa suatu saat juga akan bisa mengalami seperti –tetangga- itu, yakni beli tepong.

Keyakinannya tidak meleset. Tak bisa menyelesaikan kuliah, Budhe meninggalkan Solo pada 1972, tinggal di Jakarta dan meraih sukses. Ia menjadi Kepala Bagian Iklan Majalah Femina hingga 1986, kemudian mendirikan Majalah Mode dan Aneka Yess! (1990-2014).

Lucunya, Budhe pernah lho melampiaskan keinginannya memborong tepong di warung itu. Puluhan tahun setelah rasa complex di masa kecilnya itu, Budhe berlibur di Solo dan khusus meluangkan waktu ke warung itu. Diborong deh itu tepong. “Yu’ beli tepong, ati ampela, telur, sama ini, itu (segala lauk disebut).” Pokoknya Budhe memuaskan keinginan bibirnya mengucap beli tepong di warung itu.

Sampai di hotel, suaminya bingung. Nasi liwet penuh lauk semua. “Jadi bingung makannya… kebanyakan lauk, hahaha…,” cerita Budhe.

Sepeda dan Mercedes-Benz

Contoh complex lain adalah soal bersepeda. Dari kecil hingga remaja, Budhe ke mana-mana naik sepeda. Sebagai anak tertua dari sepuluh bersaudara, dengan adik nomor dua, tiga, empat, lima hingga enam yang semuanya laki-laki, Budhe punya banyak tugas rumah tangga membantu ibu. Mulai dari belanja ke pasar, bersih-bersih rumah, hingga memasak untuk seisi rumah.

Saat kelas 2 SMA, Budhe memilih jurusan Budaya yang masuk siang. Sebetulnya nilainya cukup untuk masuk jurusan IPA maupun IPS, tapi ia memang lebih suka budaya. Ditambah, sekolah siang berarti pagi harinya masih punya waktu untuk belanja dan mengurus rumah.

Nah, kegiatan belanja pagi itu seru! Ia harus bersepeda di jalanan kota Surakata yang kadang panas terik. Mengeluh? Sama sekali tidak. Budhe tipikal yang sangat menikmati segala tugas dengan riang. Soal panas ia atasi dengan mengenakan topi lebar ala di pantai. Buatnya, justru itu jadi fashion style.
Foto sebagai ilustrasi. Dokumentasi thinkstockphotos.com.au
Sepedanya dilengkapi keranjang di depan. Hasil belanjaan ia tata cantik. Stylish dengan topi lebarnya, dan keranjang tampak chic dengan juntaian sayuran. Pokoknya mejeng! Hahaha….

“Ditugasi belanja naik sepeda itu seneng. Sayuran saya tata cantik di keranjang. Yang hijau-hijau saya keluarin sedikit, saya juntaikan sampai keluar keranjang. Jadi dilihat cantik doong. Terus saya pakai topi pantai yang lebar itu. Gaya deh, hahaha…,” cerita Budhe.

Ke sekolah, ke Pasar Klewer tempat ibunya berdagang tekstil, atau ke manapun ya lebih sering naik sepeda. Budhe harus bersepeda membelah Kota Surakarta tiap ingin berenang. Kolam renang Tirtomoyo ada di Jebres yakni di timur utara. Sedangkan rumahnya, Kampung Tipes, terletakdi ujung barat selatan. Jadi tiap ingin berenang, berjuang mengayuh sepeda dari ujung ke ujung.

Nah, puluhan tahun setelah masa itu, setelah Budhe meraih sukses dan mampu membeli mobil, complex ia lampiaskan dengan mengendarai Mercedes-Benz atau BMW seri 7 miliknya di ruas-ruas jalan yang dulu rutin ia lalui dengan bersepeda.

“Sengaja nyetir Mercy, atau BMW, di Solo sambil mengenang, ‘Dulu gue selalu lewat jalan ini naik sepeda, sekarang gue bisa ngebut pakai mobil, hahaha….” Terlebih memiliki Mercy dan BMW memang cita-citanya. Syukurlah Budhe sempat memiliki beberapa unit dalam satu waktu. “Kalau Lamborghini memang nggak pengen, karena (rasanya seperti) ndlosor, hahaha,” ujarnya,

Complex bisa jadi motivasi kuat meraih sukses. Bukan sekedar iri nggak jelas atau merasa berhak tanpa perjuangan. Tapi karena ada complex, maka ada tujuan spesifik yang ingin kita capai. Untuk sampai pada suatu titik di mana kita bisa melampiaskan complex, daya juang kita harus tinggi.

Adversity Quotient

Soal daya juang ini sangat erat dengan Adversity Quotient atau AQ, faktor kesuksesan yang dirumuskan Paul G. Stoltz pada 1997. Dalam edukasi.kompas.com Februari 2013 ditulis, AQ menunjukkan kapasitas seseorang dalam menghadapi tekanan atau ketidaknyamanan. Disebut juga ketahanmalangan, atau kecerdasan menghadapi kesulitan.

Orang dengan AQ tinggi dapat segera kembali bangkit setelah gagal. Mengubah hambatan menjadi peluang. Sebaliknya, orang dengan AQ rendah selalu menyalahkan lingkungan ketika gagal, sehingga tidak dapat mengambil keputusan menuju sukses.

Menurut saya, AQ Budhe Nuniek sangat tinggi. Ia selalu cerdas menghadapi masalah. Dari hal yang kecil saja. Misalnya, mengayuh sepeda dengan keranjang penuh hasil belanjaan setiap hari, ia lihat sebagai peluang mejeng. Kesibukan membantu orang tua juga bukan jadi alasan sekolahnya keteteran. Prestasi di sekolah tetap gemilang.

Tepong dan sepeda merupakan contoh kecil. Complex lebih besar dialaminya saat awal terjun ke dunia kerja pertengahan 1970-an. Pada masa itu, mungkin juga sampai sekarang, tenaga pemasar iklan di institusi media cetak seolah warga kasta kelas 2. Kasta tertinggi dimiliki wartawan. Tim redaksi selalu merasa mereka lah motor perusahaan. Karena mereka lah sebuah media cetak berwibawa, oplaag besar dan mendulang iklan.

Wartawan juga yang selalu berkesempatan ke luar negeri. Budhe tentu tidak bisa iri, sebab meliput acara di luar negeri jelas bukan tugas karyawan divisi iklan. Tapi sebagai yang selalu bermimpi bisa ke negara-negara maju, ada pikiran, “Lihat saja, suatu saat gue pasti dapat kesempatan.” Tekad itu sangat memotivasi.

Berkat ketekunan, daya juang tinggi, serta menjalankan tiap tugas penuh semangat dan mengerahkan seluruh kemampuan, Budhe diapresiasi. Menjabat Kepala Bagian Iklan Majalah Femina, ia kemudian cukup sering bertugas ke luar negeri. Salah satunya dikirim ke Tokyo untuk menjadi chaperone Putri Remaja Indonesia yang berkompetisi di ajang Miss Young International. Sebelumnya, Femina adalah penyelenggara pemilihan Putri Remaja Indonesia di Jakarta. Dalam perjalanan ke Jepang itu, ia juga menjalankan kerja jurnalistik yakni meliput, memotret dan menuliskan liputan acaranya di majalah.

Ada rasa puas luar biasa bisa membuktikan pada diri sendiri, “Gue memang bukan wartawan, tapi dikirim ke luar negeri dan juga menjalankan tugas sebagai wartawan, lho!” Tak cukup itu, Budhe bahkan menjabat Pemimpin Redaksi di Majalah Aneka Yess! yang didirikannya. Tapi bukan seenaknya menempati posisi di majalah yang didirikannya sendiri, lho. Di era Orde Baru, seseorang tidak bisa begitu saja menjadi pemred media seperti era sekarang. Saat itu Budhe mengikuti prosedur termasuk menjalani pelatihan ketat di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Keberhasilan itu menurut saya karena ada unsur complex dalam diri Budhe, yang menjadi motivasi kuat. Ditambah tentunya, AQ Budhe sangat tinggi sejak kecil.

Masih dalam artikel yang sama di edukasi.kompas.com juga disebutkan, dunia pendidikan harus memanfaatkan AQ. Kapasitas untuk bisa menghadapi tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak duduk di bangku sekolah. Belajar tidak cukup dengan pendekatan menyenangkan. Selebihnya, harus menantang agar siswa berlatih membangun AQ-nya. Karena hidup identik dengan tantangan.

Motivator Pemuda, Vivid Fitri Argarini sudah sejak beberapa tahun lalu mendengungkan pentingnya AQ. Dalam wawancaranya dengan detik.com April 2015 (link artikel) ia menjelaskan, “Ada lagi satu kecerdasan yang sangat penting selain emosional, spiritual, dan intelegensi, yaitu kecerdasan daya juang (adversity quotient). Kalau kita sudah bisa konsisten dalam menjalani suatu hal, tapi tidak ada daya juang dari dalam diri, itu akan susah. Karena motivasi itu sebetulnya ada di dalam diri sendiri," jelas Vivid yang merupakan putri pertama Budhe Nuniek ini. 

Minggu, 15 November 2015

Mengenang Senang dan Tragis di Tipes

nuniek harun musawa
Keluarga kakek-nenek Budhe Nuniek, yaitu pasangan  R. Nurdin Wiryosaputro dengan Raida Smith (putri Johan Nicholas Smith/Mbah Kanjeng) di rumah loji di Tipes, Kota Surakarta. Loji dengan pekarangan berhektare yang pada 1900an menjadi landmark Tipes. 
Tipes bukan nama penyakit akibat kecapekan dan kurang makan. Ini kampung halaman Budhe di Surakarta yang menyimpan banyak kisah senang dan pilu.

Budhe Nuniek sering bercerita tentang Tipes, kampung halamannya. Suatu daerah -kini merupakan kelurahan- di selatan barat Kota Surakarta. Namanya cukup aneh ya, Tipes. Konon diambil dari nama tanggul tak jauh dari situ, yakni di sepanjang Kali Jenes -sering juga disebut Jenis- yang terbentang dari Tipes di selatan barat Surakarta, Dawung-Demangan, Demangan-Sorogenen, hingga tepat sebelum kali itu bertemu Bengawan Solo. Tanggul itu dibangun pada masa kekuasaan Paku Buwono IX yaitu 1861–1893.

Kawasan Tipes pada masa dulu termasuk pinggiran. Tapi jika melihat sekarang dengan adanya Solo Baru yakni Kabupaten Sukoharjo, posisi Tipes menjadi tidak terlalu pinggir. Bisa dibilang tengah kota juga. Budhe mengagumi Surakarta sebagai kota baru -jika dibanding kota-kota tua di Eropa- yang penataannya mirip New York City. Ada dua jalan besar yang membentang dari barat ke timur, yakni Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Dr. Radjiman. Dua jalan itu kemudian dipotong-potong oleh beberapa ruas jalan dari utara ke selatan. Nah, terbentuklah blok-blok seperti di NYC, meski ya nggak secantik itu juga…

Jalan Dr. Radjiman sangat bersejarah. Tercatat, pecahnya Keraton Kartosuro pada 1745 membuat Sunan Paku Buwono II harus mencari lokasi baru untuk istana. Dipilih tempat baru di timur Surakarta, yakni Desa Sala. Inilah cikal bakal sebutan Kota Solo. Paku Buwono II dan seluruh abdi dalem berjalan kaki dari Keraton Kartosuro di barat, ke timur menyusuri Jalan Dr. Radjiman sepanjang 20 km, sampai di lokasi baru di tepi Bengawan Solo itu.

Kata Budhe, di antara rombongan yang berjalan itu mungkin salah satunya adalah leluhur dari Bapaknya, Goenadi Prodjomulyono. "Bapak adalah orang Surakarta asli, keturunan dari Keraton Surakarta," tutur Budhe.

Dilaluinya Jalan Dr. Radjiman sebagai rute kepindahan Pakubuwono II, membuat Belanda tak mau kalah. Mereka membangun tandingannya di utara, sejajar dengan Jalan Dr. Radjiman, yakni Jalan Slamet Riyadi yang kini menjadi jalan utama. Konon kabarnya, jalur itu dulunya adalah sungai, yang kemudian diurug oleh Belanda dijadikan jalan. Selain itu, pada 1779 Belanda juga membangun Benteng Vastenburg di utara Keraton Surakarta, tepatnya di samping Alun-alun. Dulu kabarnya, benteng yang semula bernama Grootmoedigheid itu didirikan untuk mengawasi aktivitas Keraton Surakarta sejak pemerintahan Paku Buwono III.

Bisa dibilang, saat itu adalah masa menancapnya bangunan-bangunan penting dan bersejarah di Solo. Termasuk Pura Mangkunegaran yang berdiri pada 1757. Perkampungan penduduk juga tumbuh sejalan dengan itu. Termasuk Tipes. Kelurahan Tipes kini luasnya sekitar 64 hektare, masuk dalam wilayah Kecamatan Serengan. Sudah sejak 1972 Budhe meninggalkan kampung itu, menetap di Jakarta hingga sekarang. Tapi hatinya tetap dekat dengan Tipes. Ada kebanggaan pada daerah ini sebab banyak kisah keluarga yang menyenangkan, dan ada pula cerita tragis.

Berburu di rumah

Budhe lahir di Tipes pada 1948. Letak rumahnya di jalan yang kini disebut Wijaya Kusuma. Puluhan tahun sebelumnya, kakek buyut Budhe dari ibu, Johan Nicholas Smith, sudah tinggal di kawasan itu. Sang buyut adalah pria berdarah Belanda, dipanggil anak keturunannya dengan sebutan Mbah Kanjeng. Oleh warga kampung disebut Kanjeng Tuan. Nenek buyut, Suwartinem -kerap dipanggil Mbah Ibu- adalah perempuan Jawa asli, anak pedagang sapi dari Boyolali.

Mbah Kanjeng tinggal di Tipes setelah sebelumnya menjabat sebagai Asisten Residen di Situbondo, Jawa Timur. Sejak pensiun, sang Kanjeng Londo ini memilih untuk mesanggrah di Solo. Konon ibu Mbah Kanjeng berasal dari kota ini.

“Pesanggrahan Mbah Kanjeng di Tipes sangat besar. Ada loji, dan sekitarnya tanah luas berhektare. Ada kandang kuda, pekarangan, kebun dengan pepohonan yang saking luasnya, bisa untuk berburu," cerita Budhe. Rumah itu terletak di pinggir sungai irigasi, yang kini disebut Jalan Bhayangkara. Mbah Kanjeng menatanya sedemikian rupa agar serasa tinggal di Eropa.

Bagi ibunda dari Budhe, Ibu Soelastri, rumah itu menyimpan banyak kenangan. Ibu Soelastri masih sangat kecil saat masa kehidupan Mbah Kanjeng di Tipes. Kanjeng Tuan hobi berburu di pekarangan lojinya yang luasnya berhektare. Dua kali seminggu mereka berburu. Biasanya tiap Rabu dan Sabtu. Mbah Kanjeng berkostum lengkap, bersama menantu dan penderek-pendereknya yang pribumi. Berburu sambil berkhayal seakan-akan menjadi ksatria di tanah Eropa. Soelastri kecil pun didandani ala lady Belanda yang hendak berkuda, menjadi penggembira kegiatan kakeknya.

Di masa itu, Tipes membanggakan dengan keberadaan kediaman Mbah Kanjeng yang megah. Loji yang berdiri di pekarangan luas seakan menjadi landmark. Sampai suatu hari, masa kejayaan itu berakhir. Saat Jepang masuk ke tanah Jawa, Mbah Kanjeng diinternir. Ketika sedang berada di Societeit Harmoni, klub orang-orang Belanda itu digerebek Jepang dan Mbah Kanjeng diculik begitu saja, diasingkan entah ke mana. Anak keturunannya tidak pernah melihatnya lagi hingga sekarang.

Sejak itu, berangsur-angsur tidak ada lagi rumah dengan pekarangan berhektare di Tipes. Mbah Ibu mengungsi agar tidak tertangkap sebagai istri keturunan Belanda. Harta bendanya diobrak-abrik, dijarah. Sebagian dijual. Kini loji Mbah Kanjeng masih berdiri tegak, namun tak lagi dengan pekarangan luas yang bisa untuk berburu. Melainkan dikelilingi kampung-kampung padat penduduk. Loji telah berganti kepemilikan dan saat ini digunakan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani. Terlihat untuk posko partai politik.

Cerita kejayaan itu hilang.

Emansipasi

Raida Smith, putri Mbah Kanjeng yang menurunkan Budhe, tetap tinggal di Tipes. Mereka mendapat rumah di Jalan Wijaya Kusuma, tak terlalu jauh dari loji Mbah Kanjeng dulu di JalanBhayangkara. Budhe Nuniek pun lahir di rumah itu. Mayoritas warga asli Tipes pada zaman Budhe kecil (1950-an) adalah pengusaha palen atau konveksi. Sebagian besar berdagang di Pasar Klewer, termasuk keluarga Budhe. Kampung Mbaron dan Kunden yang terletak di sebelah barat Tipes, kebanyakan juga pedagang konveksi.

Lebih ke barat lagi ada Laweyan, yang kini dikenal sebagai kampung batik. Sejak dulu memang kampungnya saudagar batik. "Dulu kebanyakan orang membeli kain di Laweyan, lalu menjahitkannya di Tipes," kata Budhe.

Perempuan-perempuan Solo, khususnya di kampung-kampung yang disebutkan tadi, sudah maju sejak dulu. Semua istri bekerja. Emansipasi dengan sendirinya tak terbicarakan. Sekalipun ibu rumah tangga pasti ada saja sambilan yang dikerjakan, biasanya jualan batik. Tidak ada istri yang hanya njagakke pemberian suami.

Tapi ada yang unik dari tipikal masyarakat Tipes. Pria yang sudah menikah biasanya tidak bekerja secara mandiri, melainkan membantu usaha istrinya. Misalnya kakek Budhe, R. Nurdin Wiryosaputro. Ia tidak bekerja sejak tinggal di Tipes. Sehari-hari ia bertugas mengendarai mobil Mbah Kanjeng, mengantar mertuanya itu bepergian. Padahal saat di Situbondo, sempat bekerja sebagai amtenar. 

"Begitu masuk komunitas Tipes, kayak sudah kena ‘airnya.’ Suami tidak bekerja itu biasa. Mereka mendorong usaha istri saja,” ujar Budhe.

Yang juga unik dari masyarakat Tipes, ada kepercayaan soal mencari jodoh. Orang asli Tipes harus menikah dengan warga kampung setempat. Kalau nyeleneh, kawinnya dengan kampung lain, entah kenapa pasti rumah tangganya kandas. “Dari saya kecil sampai besar, kulturnya orang Tipes ya menikahnya dengan situ- situ aja,” ucapnya.

Nah, untungnya keluarga Budhe termasuk pendatang. Ayahnya, Goenadi Prodjomulyono, berasal dari Kampung Nonongan, Kelurahan Kemlayan di Jalan Slamet Riyadi. Budhe menyebutnya Omah Lor, sebab letaknya di utara. Sedangkan rumah leluhur Ibunya yang ditinggalinya di Tipes berada di selatan. Jadi keluarga Budhe tidak tergolong Tipes asli yang harus mengikuti tradisi soal jodoh itu. Kalau termasuk, repot juga ya kalau jatuh cinta sama warga kampung/kota/negara lain, hehehe….

Sampai kini Budhe masih sesekali ke Tipes menengok rumah di Jalan Wijaya Kusuma, tempat ia dan sembilan adiknya tumbuh besar. Rumah itu kini dimiliki salah seorang adik Budhe, setelah saudara-saudara lainnya mendapat hak waris. Suasana kampung masih relatif sama seperti dulu. Meski sudah tidak lagi tinggal di sana, tujuh anak (tiga lainnya telah wafat) keluarga Goenadi Prodjomuljono dan Soelastri masih tetap dianggap tetangga setempat sebagai warga kampung.

Kenangan membanggakan dan menyedihkan itu tersimpan di Tipes.

Selasa, 10 November 2015

Nuniek Harun Musawa Main Film "Surga Menanti"

nuniek harun musawa surga menanti
Budhe Nuniek sebagai Eyang Nuniek bersama putrinya, Vivid F. Argarini memerankan dr. Fitri
Budhe Nuniek Harun Musawa akan kembali tampil di layar lebar. Kamis (5/11) lalu, Budhe menjalani syuting film religi Surga Menanti produksi Khanza Film di Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Umi Pipik Diah Irawati 'Uje' dan Agus Kuncoro tampil sebagai bintang utama, bersama pendatang baru Syakir Daulay. 

Budhe Nuniek tampil sebagai bintang tamu memerankan Eyang Nuniek, ibu dari dr. Fitri yang diperankan putrinya, Vivid F. Argarini. Yap! Ibu dan anak bermain dalam satu film, juga sebagai ibu dan anak. Karakter Eyang Nuniek di sini sangat bijaksana dan intelek. Sebagai eyang, ia begitu menyayangi cucunya, Atsir (diperankan aktor cilik asal Bantul, Bowi), yang merupakan sahabat Dafa. Eyang Nuniek bangga pada Atsir yang sangat peduli pada sahabatnya yang sedang kesusahan. Kata Budhe, seru dan lucu juga rasanya setelah bertahun-tahun tidak bermain film, kini datang kesempatan muncul sekilas.
nuniek harun musawa surga menanti
Diarahkan sutradara, Hasto Broto
Surga Menanti disutradarai Hasto Broto, yang juga merangkap produser bersama Dyah Kalsitorini. Sebagai Produser Eksekutif, Agus Riyanto. Dyah telah lebih dulu aktif menulis skenario FTV dan sinetron, serta menerbitkan buku-buku fiksi remaja. Sebelumnya, ia merupakan jurnalis majalah remaja Aneka Yess!.

Film bukan dunia baru bagi Budhe. Debutnya sebagai aktris adalah menjadi bintang utama film Api di Bukit Menoreh (1971). Saat itu usianya baru 23 tahun, dan berhasil mendapat peran itu berkat eksistensinya di Pasar Klewer, yang boleh dibilang merupakan 'pusat sosialita' Solo masa itu. Selanjutnya, Budhe bermain di sejumlah film antara lain Samtidar (1972), serial Keluarga Berencana, dan film Djakarta 1966 (1987). Pada 1979, Budhe membintangi film Janur Kuning sebagai Ibu Tien Soeharto. Film tentang perjuangan Kolonel Soeharto ini wajib diputar di TVRI setiap 1 Maret selama 1980 sampai 1998. 
nuniek harun musawa surga menanti
Filmography Budhe tidak banyak, tapi hampir semua filmnya adalah garapan sutradara hebat dan ternama pada masanya. Djakarta 1966 disutradarai peraih Piala Citra, (Alm.) Arifin C. Noer, yang dikenal dengan film Taksi (1990) dan Pengkhianatan G30S/PKI (1984). Sutradara Api di Bukit Menoreh, (Alm.) Djadoeg Djajakusuma adalah Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, yang juga pendiri Wayang Orang Bharata. Janur Kuning disutradarai Alam Rengga Surawidjaja, sineas yang pernah menjabat Dewan Film Nasional Indonesia, Dewan Produksi Film Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta 1973-1980.
nuniek harun musawa surga menanti

Senin, 02 November 2015

Selamat Datang di "Cerita Budhe Nuniek"


“Cerita Budhe Nuniek” adalah kumpulan cerita kehidupan dan pemikiran Nuniek Harun Musawa, pendiri Majalah Remaja Aneka Yess! (1990-2014), yang dituturkan kepada saya, keponakannya. Belasan tahun lalu, -saat remaja belum menggenggam smartphone sebagai benda maha penting- media cetak, yakni majalah, mengisi keseharian mereka. Informasi gaya hidup, dunia fashion, pengetahuan, motivasi, serta sarana melambungkan mimpi, didapat melalui medium yang di era digital kini dianggap tradisional.

Budhe Nuniek memimpin Aneka Yess! hingga meraih oplaag terbesar saat itu, bahkan dibanding majalah-majalah lain beragam segmen. Meramu pengetahuan dengan motivasi, mengajak remaja berani bermimpi dan selalu percaya diri. Terbit dua minggu sekali dengan tebal 140 halaman, majalah ini disukai generasi 90-an.

Aneka Yess! mengalami masa terpaksa menolak permintaan agen yang ingin menambah pesanan. Dicetak di lima percetakan, karena dua atau tiga saja tak sanggup. Tidak ada istilah cetak ulang sebab dalam 14 hari, edisi berikutnya telah siap tersaji.

'Tangan besinya' dalam mengelola perusahaan, menciptakan suasana bekerja yang penuh inspirasi, sekaligus mengajak remaja Indonesia meraih impiannya. Sederet bintang dilahirkan dari panggung Aneka Yess! melalui kompetisi Coverboy, Covergirl dan Top Guest. Bersama itu semua, Budhe sendiri menjalani mimpinya. Mimpi bocah kampung Tipes, Surakarta, yang tak pernah meraih gelar sarjana.

Kini di tengah generasi milenial, semangat Budhe untuk berbagi pemikiran, prinsip hidup serta mimpi-mimpinya, tak terhenti. Selamat datang di "Cerita Budhe Nuniek".